Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyoroti serius tingginya angka konsumsi beras rata-rata warganya. Data menunjukkan, setiap individu di NTB mengonsumsi hingga 103 kilogram beras per tahun, sebuah angka yang memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pangan jangka panjang.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Eva Dewiyani, menegaskan pentingnya diversifikasi pangan sebagai strategi utama. “Konsumsi beras per kapita yang tinggi mencapai 103 kilogram per tahun menuntut diversifikasi pangan yang lebih gencar untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras,” ujar Eva dalam keterangannya di Mataram, Selasa (24/2/2026).
Meskipun stok beras daerah saat ini berada pada level aman dan menunjukkan peningkatan, Eva memperingatkan bahwa ketergantungan pada satu komoditas pangan berpotensi menimbulkan kerentanan di masa depan. Salah satu alternatif yang didorong adalah sorgum, tanaman pangan yang dinilai potensial di NTB karena ketahanannya terhadap kondisi air yang terbatas.
Pada tahun 2025, NTB mencatatkan produksi gabah kering giling (GKG) sebanyak 1,69 juta ton. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 16,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Luas panen padi mencapai 322.927 hektare dengan produktivitas rata-rata 52,59 kuintal per hektare.
Pemerintah terus berupaya memperkuat sektor pertanian melalui optimalisasi lahan, penggunaan benih unggul, serta mendorong konsumsi pangan alternatif non-beras. Langkah ini merupakan bagian dari penyelarasan program swasembada pangan nasional di tingkat daerah.
Selain itu, Eva juga menyoroti tantangan serius lain, yakni food waste dan food loss. Sekitar 40 persen dari total timbunan sampah di NTB merupakan sisa makanan. “Gerakan Stop Boros Pangan dan Selamatkan Pangan harus terus digaungkan demi mengatasi kerawanan pangan dan gizi di masa depan, sekaligus mengurangi limbah dan menekan emisi gas rumah kaca,” jelasnya.
Diversifikasi pangan menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan di tengah berbagai tantangan, termasuk alih fungsi lahan dan perubahan iklim yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas beras. “Gerakan Stop Boros Pangan mengajak masyarakat dan sektor pariwisata untuk bijak mengonsumsi pangan,” pungkas Eva, menekankan peran serta seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keberlanjutan pangan.
