Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan awal berupa nota kesepahaman (MoU) satu halaman. Kesepakatan ini bertujuan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu dan menetapkan kerangka kerja bagi negosiasi nuklir yang lebih rinci.
Menurut laporan Axios pada Rabu (6/5), yang mengutip sumber-sumber terpercaya, AS menanti respons Iran dalam waktu 48 jam terkait isu-isu utama. Meskipun belum ada kesepakatan final, kondisi ini disebut sebagai titik terdekat yang pernah dicapai kedua negara sejak pecahnya konflik.
Poin-Poin Draf Kesepakatan
Draf nota kesepahaman tersebut mencakup beberapa ketentuan kunci:
- Iran diminta untuk menangguhkan program pengayaan nuklirnya.
- Amerika Serikat harus mencabut sanksi yang diberlakukan dan membebaskan dana Iran yang dibekukan.
- Kedua belah pihak wajib melonggarkan pembatasan transit di jalur strategis Selat Hormuz.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa banyak ketentuan dalam draf ini masih bergantung pada kesepakatan akhir antara AS dan Iran. Hal ini berpotensi menimbulkan risiko konflik baru atau membuat gencatan senjata yang telah berlangsung lama menjadi tidak terselesaikan.
Peran Donald Trump dan Proses Negosiasi
Presiden AS Donald Trump disebut-sebut telah menunda operasi militer baru di Selat Hormuz. Keputusan ini diambil untuk mempertahankan gencatan senjata, mengingat adanya kemajuan signifikan dalam perundingan.
Draf nota kesepahaman yang berisi 14 poin ini sedang dinegosiasikan oleh dua utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, bersama dengan sejumlah pejabat Iran. Proses negosiasi dilakukan baik secara langsung maupun melalui mediator.
Rancangan kesepakatan juga mencakup penghentian perang secara resmi dan dimulainya masa negosiasi selama 30 hari. Periode ini akan fokus pada pembahasan pembukaan kembali Selat Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, serta pencabutan sanksi.
Langkah Selanjutnya dan Potensi Risiko
Perundingan lanjutan antara kedua negara kemungkinan besar akan diselenggarakan di Islamabad atau Jenewa. Selama periode negosiasi 30 hari tersebut, pembatasan pelayaran Iran dan blokade laut yang diterapkan AS akan dilonggarkan secara bertahap.
Namun, Axios juga melaporkan bahwa Amerika Serikat memiliki opsi untuk kembali memberlakukan blokade atau melanjutkan aksi militer jika perundingan gagal mencapai hasil yang diharapkan.
Salah satu isu yang masih menjadi perdebatan sengit adalah durasi moratorium pengayaan nuklir Iran. Iran mengusulkan moratorium selama lima tahun, sementara AS menginginkan hingga 20 tahun. Perkiraan kompromi yang mungkin dicapai berkisar antara 12 hingga 15 tahun.
Sumber: Anadolu
