Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, bersama ribuan relawan berhasil mengumpulkan 100 ton sampah dari kawasan Teluk Palu dalam sebuah aksi bersih-bersih pada Jumat (30/1/2026). Sampah yang didominasi plastik dan material kayu ini diangkut menggunakan 37 unit armada kebersihan yang seluruhnya terisi penuh.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir, mengungkapkan bahwa jumlah tonase sampah yang terangkut menjadi catatan penting bagi pihaknya. “Kami mengerahkan 37 unit armada kebersihan, dan semua bak armada penuh sampah,” kata Ibnu di sela kegiatan yang berpusat di kawasan konservasi mangrove Teluk Palu.

Aksi bersih-bersih ini dilakukan sepanjang kawasan konservasi mangrove sekitar 1,2 kilometer. Ibnu menegaskan bahwa angka 100 ton sampah sangatlah banyak, sehingga gerakan serupa perlu dilakukan lebih masif, baik oleh pemerintah maupun pihak lainnya. “Aksi dilakukan sepanjang kawasan konservasi mangrove sekitar 1,2 kilometer menghasilkan 100 ton sampah, angka ini sangat banyak. Oleh karena itu, aksi seperti ini harus lebih masif, baik di tingkat pemerintah maupun pihak-pihak lainnya,” ujarnya.

Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 3.500 orang dari berbagai elemen masyarakat. Mereka terdiri atas pekerja program padat karya, personel DLH, perangkat daerah, pegiat lingkungan, TNI/Polri, lintas organisasi, mahasiswa, dan siswa.

Sampah yang ditemukan sebagian besar merupakan sampah kiriman yang terbawa arus dan ombak hingga terdampar ke daratan Teluk Palu. Keberadaan sampah-sampah ini, menurut Ibnu, sangat mengancam pertumbuhan tanaman mangrove dan biota laut lainnya di Teluk Palu.

“Tentu keberadaan sampah itu mengancam pertumbuhan tanaman mangrove dan biota laut lainnya di Teluk Palu. Kami berharap dukungan semua pihak tetap solid dalam menjaga kelangsungan lingkungan hidup dari pencemaran sampah. Saya juga meminta warga Palu meningkatkan kesadaran tentang kebersihan,” ucap Ibnu.

Ibnu Mundzir menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menekankan bahwa tanpa kerja sama yang baik dan kepedulian tinggi terhadap lingkungan, sulit bagi pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. “Aksi seperti ini metode efektif dalam menjaga keberlanjutan mangrove dan biota laut lainnya. Kegiatan seperti ini bukan pencitraan, tetapi ini kerja nyata dan peduli terhadap ekologi. Kami bersyukur masih banyak orang sadar akan pentingnya keberlangsungan lingkungan hidup,” pungkasnya.