Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sebanyak 166.579 jiwa penduduk terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara masih berada di lokasi pengungsian hingga Sabtu (17/1). Data ini merupakan bagian dari pembaruan penanganan darurat dan pemulihan bencana yang terus diakselerasi.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan adanya peningkatan jumlah korban jiwa. Total korban meninggal dunia akibat bencana di tiga provinsi tersebut mencapai 1.198 orang, dengan penambahan 8 korban di Provinsi Aceh. Selain itu, 144 orang masih tercatat hilang.
“Jumlah penduduk terdampak yang masih berada di lokasi pengungsian tercatat sebanyak 166.579 jiwa,” ujar Abdul Muhari, Sabtu (17/1).
Upaya percepatan pembangunan hunian sementara (huntara), pembukaan dan pembersihan akses jalan serta jembatan, dan pemulihan kawasan permukiman terus ditingkatkan. Abdul Muhari menjelaskan, pemasangan Jembatan Aramco dan Bailey masih dilakukan oleh Satgas Yonzipur 5/ABW di Kabupaten Aceh Utara. Di wilayah yang sama, tim gabungan TNI dan Polri juga membersihkan fasilitas publik.
Progres perbaikan jaringan PDAM untuk pemenuhan air bersih, salah satunya di Kabupaten Bener Meriah, dilaporkan telah mencapai 80% per Kamis (15/1).
Distribusi logistik kepada warga terdampak telah mencapai 1.747,11 ton sejak 29 November hingga 15 Januari. Khusus di Provinsi Aceh, distribusi harian melalui udara sebanyak 12 sorti dengan berat 11,9 ton dan 4 truk via darat 10,4 ton, sehingga total 22,3 ton. Untuk Sumatra Utara, total terdistribusi 98,14 ton, terdiri dari 2,75 ton via udara dan 93,19 ton via darat.
BNPB bersama pemerintah daerah menargetkan penyelesaian pembangunan hunian sementara sebelum bulan Ramadan. Dari 50.668 unit rumah rusak berat, 27.860 unit telah diajukan untuk pembangunan huntara. Saat ini, 5.738 unit masih dalam proses pembangunan dan 781 unit telah selesai serta siap dihuni.
Pengajuan hunian tetap tercatat sebanyak 10.273 unit, dengan 648 unit sedang dalam tahap konstruksi. Skema bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) juga dioptimalkan, dengan 15.346 kepala keluarga mengajukan DTH dan 10.717 rekening penerima telah siap.
“Tercatat penambahan 153 penerima dalam periode terakhir, sehingga total penerima DTH yang telah menerima bantuan mencapai 2.695 kepala keluarga,” ungkap Abdul Muhari.
Sebagai bagian dari mitigasi risiko bencana hidrometeorologi basah jangka pendek, BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga 14 Januari 2026, OMC di Aceh telah dilakukan 449 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) sebesar 431.600 kilogram.
Di Sumatra Utara, OMC dilakukan 368 sorti dengan total bahan semai sekitar 322.000 kilogram, sementara di Sumatra Barat tercatat 384 sorti dengan total bahan semai 381.325 kilogram. Operasi ini bertujuan mengendalikan intensitas curah hujan dan mengurangi potensi bencana susulan.
BNPB menegaskan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, serta seluruh unsur masyarakat. Sinergi ini diharapkan memastikan penanganan bencana berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan.
“Dengan sinergi yang solid, percepatan pemulihan infrastruktur dasar, pemenuhan kebutuhan hunian layak, serta penguatan langkah mitigasi diharapkan mampu mengembalikan kehidupan masyarakat terdampak secara bertahap menuju kondisi yang lebih aman, tangguh dan berdaya menghadapi risiko bencana ke depan,” pungkas BNPB.
