Memiliki rumah pertama seringkali menjadi impian sekaligus tantangan besar bagi pasangan muda. Di tengah dinamika ekonomi dan harga properti yang terus merangkak naik, pilihan realistis menjadi kunci. Dua kisah dari Kediri dan Tulungagung ini menggambarkan bagaimana Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bank Tabungan Negara (BTN) menjadi jembatan bagi pasangan muda untuk mewujudkan hunian pertama, baik sebagai tempat pulang maupun investasi masa depan.

Perjalanan Husnika dan Alfan: Dari Desakan Keluarga hingga Rumah Subsidi

Bagi Husnika Maliyasai (29) dan suaminya, Alfan (32), keputusan memiliki rumah pertama bukanlah hasil perencanaan jangka panjang. Awalnya, mereka tidak berniat mengambil KPR. “Sebenarnya, saya dan suami awal mulanya tidak berniat mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Rencana awal kami hanya mencari tanah untuk kemudian dibangun rumah sendiri. Itu sekitar akhir tahun 2020,” tutur Husnika pada Kamis (29/1/2026).

Namun, setelah menikah pada Mei 2021, keinginan untuk hidup mandiri tanpa menumpang orang tua atau mertua berbenturan dengan restu keluarga. “Orang tua maupun mertua itu enggak setuju. Wong ada rumah di situ kok kenapa harus ngekos, kenapa harus ngontrak? Nah, akhirnya mau enggak mau supaya kita enggak tinggal di rumah orang tua atau mertua, harus punya rumah sendiri. Akhirnya cari-carilah rumah,” lanjutnya.

Pencarian rumah membawa mereka menyusuri lebih dari 20 kompleks perumahan di Kediri. Akhirnya, pilihan jatuh pada rumah subsidi tipe 36 di Sambirejo. Lokasinya strategis dekat kantor Alfan, dan yang terpenting, cicilannya dinilai masuk akal. Husnika juga membandingkan dengan pengalaman teman-temannya. “Aku dengar beberapa cerita dari teman-teman yang rumah komersial, nanggung gitu loh. Komersial tapi nanggung itu kualitasnya enggak jauh sama subsidi. Paling bedanya cuma lebihan lahan. Dan floating bikin takut,” terangnya.

Melalui skema KPR BTN, mereka mendapatkan cicilan flat sekitar Rp1,1 juta per bulan selama 15 tahun. Angka ini dianggap sangat realistis dengan total gaji mereka sekitar Rp8,5 juta kala itu. “Waktu itu total gaji kami sekitar Rp8,5 juta. Cicilan Rp1,1 juta masih sangat masuk akal. Kami masih bisa hidup, nabung, membantu orang tua, dan cukup untuk ongkos bolak-balik kerja Surabaya–Kediri,” kata Husnika.

Proses kepemilikan rumah di masa pandemi COVID-19 itu tidak instan. Biaya administrasi, balik nama sertifikat, hingga pengurusan dokumen lain mencapai Rp23–25 juta. Belum lagi, rumah subsidi tersebut memerlukan banyak perbaikan, seperti pembangunan dapur, pemindahan kamar mandi, dan pemasangan pagar. “Kami membangun rumah ini seperti membangun kesabaran. Sedikit demi sedikit. Sempat ada drama soal tukang. Inginnya cari biaya yang murah untuk pagar, malah datang seperti kandang kambing, baru dipasang sudah ambrol,” kenangnya terkekeh. Total biaya renovasi hingga layak huni mendekati Rp50 juta.

Rumah berukuran 30 meter persegi dengan luas tanah 60 meter persegi di Griya Mentari Blok J27 itu akhirnya benar-benar menjadi alamat pulang yang nyaman pada tahun 2022, setelah Husnika pindah kerja ke Kediri. Pilihan KPR BTN dengan skema cicilan tetap menjadi pertimbangan utama. “Yang penting buat kami bukan rumah mewah, tapi rumah yang cicilannya tidak menghantui,” ujarnya.

Ada cerita personal yang tak kalah penting. Putra mereka, Birru (2), lahir tak lama setelah mereka menetap di rumah sendiri. “Jadi dulu kan aku kerja di Surabaya, suamiku di Kediri. Nah, itu aku enggak hamil-hamil dari 2021. Akhirnya 2022 aku pindah ke Kediri. Awalnya masih tinggal di rumah mertua karena rumah ini belum terisi perabot. Itu selama beberapa bulan. Itu juga enggak hamil-hamil. Sampai akhirnya setelah isi perabot, kita beli sedikit-sedikit, lalu kita pindah, sebulan di rumah baru aku hamil,” ceritanya. Rumah itu, bagi mereka, menghadirkan ketenteraman yang mungkin selama ini tak disadari dibutuhkan. “Suatu saat kita pasti bisa membangun rumah impian itu,” harap Husnika.

Bramanta Pamungkas: Rumah sebagai Investasi Jangka Panjang

Berbeda dengan Husnika, Bramanta Pamungkas (34), seorang wartawan asal Tulungagung, memandang rumah pertama sebagai investasi. Selama lebih dari satu dekade berprofesi sebagai jurnalis, Bram—sapaan akrabnya—tidak merasakan desakan untuk memiliki rumah sendiri karena menempati rumah orang tuanya yang kosong. “Waktu itu rasanya belum butuh rumah,” ujar Bram.

Bahkan setelah sebelas tahun menikah, pola hidup tersebut tidak banyak berubah. Kesadaran akan pentingnya hunian pribadi justru datang perlahan, seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal, melainkan kebutuhan pokok dan bagian dari perencanaan finansial jangka panjang.

Dengan keterbatasan dana untuk membeli secara tunai, skema KPR menjadi pilihan rasional. Bram menyadari komitmen jangka panjang yang harus diemban. “Namanya juga KPR, ya pasti lama. Dari awal sudah sadar dengan risikonya,” katanya. Pilihan Bram jatuh pada KPR BTN, tidak hanya karena pertimbangan bunga, tetapi juga kemudahan akses. Pengembang perumahan yang dipilihnya hanya bekerja sama dengan dua bank, dan BTN memiliki kantor cabang di wilayah tempat tinggalnya.

Kedekatan kantor cabang BTN memudahkan proses pengajuan kredit, verifikasi dokumen, hingga pembayaran cicilan. “Tetap harus mengalahkan keinginan-keinginan lain,” ungkapnya. Melalui KPR BTN, Bram mengambil rumah subsidi dengan cicilan sekitar Rp1,3 juta per bulan dan suku bunga di kisaran lima persen, yang dinilainya realistis untuk kondisi keuangannya. Meski belum ditempati dan lebih difungsikan sebagai aset, keputusan ini dianggap penting sebagai pijakan awal.

Sebagai wartawan yang kerap meliput isu sosial dan ekonomi, Bram memandang persoalan perumahan dengan reflektif. “Rumah itu seperti jodoh. Kalau sudah saatnya, akan datang,” kelakarnya. Ia berpesan kepada generasi muda agar tidak menunda ketika niat dan kemampuan sudah ada, mengingat harga rumah yang terus naik dan kesempatan pembiayaan terjangkau yang tidak selalu berulang.

Peran KPR BTN dalam Mendukung Kepemilikan Rumah Pasangan Muda

Kisah Husnika-Alfan dan Bramanta Pamungkas hanyalah dua dari ribuan pasangan muda yang memilih Bank BTN. Data dari BTN Kantor Cabang Kediri menunjukkan, sepanjang tahun 2025, sebanyak 932 pasangan suami istri di wilayah Kediri memanfaatkan fasilitas KPR subsidi. Sementara itu, di Kabupaten Tulungagung tercatat 114 pasangan melakukan hal serupa. “Untuk pasangan muda ini hampir rata-rata,” ujar CLS Non Subsidi BTN Kantor Cabang Kediri, Irfan Arga M, pada Jumat (30/1/2026).

Irfan menambahkan, jumlah tersebut terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Setiap tahun pasti mengalami peningkatan,” katanya. Tingginya minat ini, menurut Irfan, tidak lepas dari keunggulan BTN, terutama dari sisi proses yang cepat dan mudah, serta suku bunga yang relatif ringan. “Keunggulan kami jelas pada proses yang cepat dan mudah. BTN memang dikenal oleh pengembang maupun masyarakat sebagai bank KPR,” jelasnya.

Selain itu, BTN juga terus mengembangkan layanan digital melalui aplikasi Bale yang dinilai mampu bersaing dengan aplikasi perbankan Himpunan Bank Milik Negara (HIMBARA) lainnya. Aplikasi tersebut sangat memudahkan nasabah dalam mengakses layanan perbankan. BTN juga menawarkan berbagai potongan harga, termasuk melalui kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan yang membuat suku bunga KPR untuk properti komersial menjadi lebih kompetitif. “Untuk properti komersial kami lebih diuntungkan karena bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan, sehingga suku bunganya lebih bersaing,” terangnya. Nasabah yang menggunakan aplikasi Bale juga berkesempatan memperoleh cashback di berbagai tenant makanan ternama.

Rumah pertama, seperti yang digambarkan dalam cerita-cerita ini, jarang lahir dari kesempurnaan. Ia tumbuh dari keterbatasan yang diterima dengan sadar, dari cicilan yang dihitung agar tak menggerus ketenangan, dan dari keputusan-keputusan kecil yang dijaga konsistensinya. Bagi Husnika dan Alfan, rumah adalah tempat pulang dan ruang bertumbuh yang dibangun setahap demi setahap, hingga akhirnya menghadirkan kehidupan baru. Sementara bagi Bramanta dan keluarganya, rumah adalah pijakan rasional, investasi masa depan yang diambil pada waktu yang dianggap paling tepat. Di antara dua cerita yang berbeda itu, ada benang merah yang sama: keberanian memilih jalan yang realistis, melalui skema Kredit Pemilikan Rumah Bank Tabungan Negara.