Risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia atau zoonosis masih menjadi ancaman nyata di tingkat peternakan rakyat. Minimnya pemahaman mengenai manajemen limbah dan pembersihan fisik secara berkala membuat kandang kerap menjadi sarang patogen yang membahayakan ternak sekaligus peternak itu sendiri.
Pembenahan melalui penerapan sanitasi kandang secara sistematis menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan tersebut. Hal ini dikemukakan oleh akademisi dari Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. I Gusti Agus Maha Putra Sanjaya, pada Sabtu (30/5/2026).
Sanitasi Sistematis: Lebih dari Sekadar Membersihkan
Menurut Agus, sanitasi kandang bukan sekadar rutinitas membersihkan kotoran, melainkan serangkaian upaya sistematis yang mencakup pembersihan fisik, desinfeksi, pengapuran, hingga manajemen limbah yang terukur.
“Tindakan ini bertujuan membunuh patogen seperti bakteri, virus, dan parasit. Lingkungan kandang yang nyaman tidak hanya mencegah stres pada ternak yang dapat menurunkan produktivitas, tetapi yang paling krusial adalah melindungi para peternak dari risiko zoonosis,” ujar Agus.
Kesadaran dan penerapan sanitasi sistematis ini kemudian dihilirisasi langsung kepada masyarakat dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, yang berlangsung sejak pekan lalu.
Lima Komponen Utama Sanitasi Kandang
Dalam implementasi di lapangan, Agus memaparkan lima komponen utama yang harus disiplin diterapkan oleh peternak:
- Pembersihan Fisik Rutin: Membersihkan sisa pakan dan tempat pakan/minum secara berkala.
- Desinfeksi: Melakukan penyemprotan antiseptik untuk menekan mikroorganisme berbahaya.
- Pengapuran: Mengaplikasikan kapur pada lantai kandang yang lembap untuk membunuh bakteri dan jamur.
- Manajemen Limbah: Memastikan feses tidak menumpuk dan dikelola dengan baik.
- Kebersihan Drainase: Menjaga kebersihan saluran drainase di sekitar kandang.
Langkah preventif ini diadopsi langsung oleh Kelompok Ternak Kambing Galang Kangin di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, yang beranggotakan 25 orang.
Mengubah Limbah Menjadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomi
Ketua Kelompok Ternak Galang Kangin, I Ketut Sandita Yasa, mengakui bahwa tantangan utama peternak tradisional selama ini adalah pengelolaan limbah feses kambing yang cenderung menumpuk dan memicu amonia tinggi. Guna melengkapi sistem sanitasi tersebut, penanganan limbah kotoran kambing berlanjut pada proses pengolahan menjadi pupuk organik padat (kompos) menggunakan teknologi fermentasi dengan bantuan bioaktivator Biomi.
Pemrosesan ini tidak hanya menghilangkan bau dan amonia yang panas, tetapi juga merombak bahan organik kompleks menjadi unsur hara (N, P, K) yang siap diserap tanah. Lebih jauh, inisiatif ini memberikan nilai ekonomi tambahan bagi kelompok ternak.
Melalui penerapan sanitasi yang ketat dan tata kelola limbah yang benar, kawasan peternakan di perdesaan diharapkan mampu menghasilkan produk ternak yang aman, berkualitas tinggi, sekaligus menciptakan ruang kerja yang sehat dan bebas dari ancaman penularan penyakit bagi komunitas peternak lokal.
