Pemandangan berbeda mewarnai perayaan Idul Adha 1447H/2026 di lingkungan RW 14, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Jika biasanya pembagian daging kurban identik dengan tumpukan kantong plastik, panitia kurban di Masjid Istiqomah Purwosari menerapkan kebijakan unik dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai dalam proses distribusi.
Warga yang telah memegang kupon penerimaan hewan kurban tampak antusias mendatangi lokasi pemotongan. Mereka membawa berbagai piranti dapur dari rumah masing-masing, mulai dari panci, baskom, hingga mangkuk besar, sebagai wadah untuk menampung jatah daging kurban.
Dukungan Nyata untuk Program Lingkungan Kota Solo
Langkah inovatif ini diambil bukan tanpa alasan. Sekretaris Pemotongan Hewan Kurban Masjid Istiqomah, Ragil Efendi (40), menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bentuk dukungan nyata terhadap imbauan Walikota Solo. Tujuannya adalah untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mengatasi masalah darurat sampah di Kota Bengawan.
“Ini memang cara unik dan baru untuk pembagian hewan kurban. Ya sekaligus memenuhi imbauan walikota, untuk menjaga dan merawat lingkungan agar bersih dari sampah,” ujar Ragil saat ditemui di lokasi pemotongan, Rabu (27/5/2026).
Menurut Ragil, dengan meminta warga membawa wadah sendiri, panitia berhasil menekan penggunaan plastik dalam jumlah besar. Pada tahun ini, Masjid Istiqomah menyembelih satu ekor sapi dan sembilan ekor kambing. Seluruh daging hasil sembelihan tersebut didistribusikan tanpa menggunakan kantong plastik selembar pun dari pihak panitia.
Data Distribusi Kurban Masjid Istiqomah Purwosari
| Kategori | Detail |
|---|---|
| Lokasi | RW 14, Kelurahan Purwosari, Laweyan, Solo |
| Jumlah Hewan | 1 Ekor Sapi dan 9 Ekor Kambing |
| Metode Distribusi | Warga membawa wadah sendiri (panci/baskom) |
| Tujuan Utama | Mengurangi sampah plastik & mendukung program Pemkot Solo |
Respons Positif dan Harapan Inspirasi
Meskipun harus membawa perlengkapan sendiri dari rumah, warga Purwosari menyambut kebijakan ini dengan tangan terbuka. Sosialisasi yang dilakukan jauh-jauh hari membuat warga tidak merasa keberatan dan justru merasa bangga bisa berkontribusi dalam menjaga lingkungan.
Bu Joko, salah satu warga setempat, mengungkapkan dukungannya saat mengantre dengan membawa baskom.
“Pengambilan kali ini tanpa menyisakan sampah plastik. Ini ide bagus panitia dan warga mendukung sekali. Apalagi Kota Solo dalam situasi darurat sampah,” tuturnya sembari menunjukkan daging kurban yang telah diterimanya.
Keceriaan terpancar dari wajah para warga yang tertib mengantre. Inisiatif dari kampung Purwosari ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masjid-masjid lain di Kota Solo maupun daerah lain untuk mulai menerapkan konsep eco-kurban atau kurban ramah lingkungan di masa mendatang.
