Presiden Prabowo Subianto mendesak negara-negara anggota ASEAN untuk menyederhanakan mekanisme ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR) dan mengoptimalkan pemanfaatan pangan lokal guna memperkuat cadangan serta ketahanan pangan kawasan. Desakan ini disampaikan Prabowo dalam sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-48 ASEAN di Mactan Expo, Cebu, Filipina, pada Jumat, 8 Mei 2026.
Prabowo Soroti Ancaman Krisis Pangan Global
Dalam forum tertinggi ASEAN tersebut, Presiden Prabowo menyoroti ancaman krisis pangan yang kian nyata akibat berbagai faktor, termasuk cuaca ekstrem dan dinamika geopolitik global. Menurutnya, tantangan ini memerlukan respons kolektif dan kolaborasi antarnegara.
“Ini bukan tantangan yang bisa ditangani oleh satu negara saja. ASEAN harus bertindak bersama. Hal ini juga membutuhkan penyederhanaan ASEAN Plus Three (untuk) Cadangan Beras Darurat. Kita harus memajukan cadangan pangan berbasis cadangan lokal kita,” tegas Presiden Prabowo, sebagaimana dikutip dari siaran resmi Sekretariat Presiden di Jakarta.
APTERR sendiri merupakan mekanisme permanen kerja sama cadangan beras antara ASEAN dengan tiga negara mitra, yaitu China, Jepang, dan Korea Selatan, yang kantor sekretariatnya beroperasi di Bangkok, Thailand, sejak 2013.
Peringatan Ancaman Geopolitik dan El Niño
Prabowo juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas di jalur perdagangan strategis yang melintasi perairan kawasan ASEAN. Ia menekankan perlunya kehati-hatian agar tidak terjadi gangguan di wilayah tersebut, yang dapat berdampak pada ketahanan pangan.
“Kita harus ingat bahwa wilayah kita memiliki jalur perdagangan strategis yang melewati perairan kita, dan kita harus berhati-hati agar tidak terjadi gangguan di wilayah kita sendiri,” ujarnya.
Selain itu, Presiden Prabowo menyoroti peringatan dari berbagai organisasi internasional mengenai risiko El Niño yang sangat ekstrem. Menurutnya, kondisi ini semakin mendesak penguatan ketahanan pangan di ASEAN.
“Kita telah diperingatkan oleh organisasi internasional tentang risiko El Niño yang sangat ekstrem, yang mengingati di depan kita. Dalam hal ini, ketahanan pangan menjadi semakin mendesak,” kata Prabowo.
Komitmen Indonesia untuk Kedaulatan Pangan Nasional
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kepemimpinan aktif pemerintah sangat dibutuhkan dalam membangun ketahanan pangan. Ia menyatakan komitmen penuh Pemerintah Indonesia untuk bertanggung jawab menjaga kedaulatan pangan nasional demi kesejahteraan masyarakat dan stabilitas negara.
“Bagi kami, ini adalah tanggung jawab utama pemerintah, dan Pemerintah Indonesia bertekad untuk memikul tanggung jawab penuh dan kedaulatan penuh atas sektor vital ini. Tanpa pangan, pada dasarnya tidak ada masyarakat. Tanpa pangan, tidak ada kemerdekaan. Tanpa pangan, tidak ada perdamaian,” pungkas Presiden Prabowo.
Dalam sesi pleno KTT Ke-48 ASEAN tersebut, Presiden Prabowo didampingi sejumlah pejabat negara, antara lain Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
