Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa virus Hanta utamanya menular dari tikus ke manusia melalui inhalasi aerosol. Penyakit zoonosis ini, yang dapat menyebabkan sindrom paru, memiliki tingkat kematian yang signifikan jika tidak ditangani dengan cepat.
Mekanisme Penularan dan Risiko
Dicky Budiman mengungkapkan bahwa penularan utama virus Hanta terjadi ketika manusia menghirup debu dari urin tikus yang mengering, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. “Hanta virus pulmonary syndrom ini adalah penyakit zoonosis dari keluarga virus hantavirus. Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urin yang mengering, feses tikus ataupun air liur tikus yang sakit itu,” jelas Dicky dalam percakapan daring dengan ANTARA pada Rabu, 6 Mei 2026.
Ahli kesehatan masyarakat dan lingkungan ini menambahkan, virus Hanta juga dapat menular pada individu yang melakukan kontak langsung dengan urin atau kotoran tikus di permukaan. Namun, ia menekankan bahwa penyebaran langsung antarmanusia sangat terbatas dan hanya terjadi pada strain tertentu, seperti virus Andes, ketika ada kontak silang.
Gejala dan Tingkat Kematian
Pada orang yang telah terkontaminasi virus Hanta, fase klinis awal seringkali ditandai dengan demam, nyeri, dan otot lemas. Kondisi ini dapat memburuk dengan cepat menuju fase kritis, di mana terjadi kerusakan pembuluh darah paru dan kebocoran cairan. Akibatnya, pasien dapat mengalami edema dan gagal napas akut.
“Biasanya kematian bisa sampai 40 persen dengan mekanisme utama adanya vascular leakage syndrome, sehingga paru terisi cairan dan ini terjadi hipoksia berat,” kata Dicky. Ia memperingatkan bahwa perburukan kondisi menuju fase berat bisa terjadi dalam hitungan hari, sehingga deteksi dan penanganan dini sangat krusial.
Diagnosis dan Penanganan
Dicky Budiman menegaskan bahwa faktor kunci dalam meningkatkan ketahanan hidup pasien adalah diagnosis yang tepat dan cepat. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan fase paru berat dan berujung pada kematian. Hingga saat ini, belum ada terapi antivirus spesifik untuk penyakit ini.
Meskipun demikian, terapi suportif dapat dilakukan untuk membantu pasien, seperti memenuhi kebutuhan oksigen dengan ventilator dan manajemen cairan yang ketat. Dicky juga meyakini bahwa potensi virus Hanta untuk menjadi pandemi global sangat kecil, mengingat penularan utamanya bukan antarmanusia.
Pencegahan
Untuk mencegah penularan, Dicky mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, terutama di area berisiko tinggi seperti kapal laut atau ruangan tertutup dengan ventilasi terbatas. Kebersihan menjadi benteng utama dalam menghadapi ancaman virus ini.
