Arsenal kini berada di posisi yang tak terbayangkan empat tahun lalu. Memasuki Mei 2026, The Gunners tengah berjuang di dua kompetisi bergengsi sekaligus: semifinal Liga Champions melawan Atletico Madrid dan perburuan gelar Premier League menghadapi Liverpool serta Manchester City. Dua trofi besar dalam satu musim menjadi misi utama yang mereka kejar.

Dua Front, Satu Misi Besar

Bulan Mei menjadi periode krusial bagi Arsenal. Di kancah Eropa, leg pertama semifinal Liga Champions berakhir imbang 1-1 di markas Atletico Madrid, Wanda Metropolitano. Gol Viktor Gyokeres sempat membawa Arsenal unggul sebelum jeda, namun Julian Alvarez menyamakan kedudukan melalui titik putih di babak kedua. Leg kedua yang akan digelar di Emirates Stadium pada 6 Mei 2026 akan menjadi penentu siapa yang berhak melaju ke final.

Di kompetisi domestik, perjalanan Arsenal di Premier League juga tak kalah ketat. Berdasarkan data klasemen terkini, Arsenal bersaing di tiga besar bersama Liverpool dan Manchester City dengan selisih poin yang sangat tipis. Setiap pertandingan tersisa memiliki arti penting, sebab satu kesalahan kecil dapat berarti hilangnya gelar yang telah mereka nantikan selama lebih dari dua dekade.

Konsistensi tinggi ditunjukkan Arsenal dalam beberapa pertandingan terakhir Premier League. Tiga kemenangan beruntun menjadi modal berharga menjelang babak penentuan. Gol-gol dari Bukayo Saka dan Martin Odegaard membuktikan bahwa lini serang Arsenal tidak bergantung pada satu sumber serangan saja.

Obsesi Liga Champions dan Penantian Premier League

Arsenal terakhir kali mengangkat trofi Eropa pada musim 1993-94, yakni Inter-Cities Fairs Cup yang kemudian diakui UEFA sebagai gelar Eropa pertama mereka. Pencapaian terdekat di Liga Champions adalah saat menjadi runner-up pada musim 2005-06, ketika mereka takluk 2-1 dari Barcelona di Stade de France.

Sementara itu, penantian gelar liga Inggris telah berlangsung dua dekade lebih. Premier League terakhir kali diraih Arsenal pada musim 2003-04, era ‘Invincible’ yang hingga kini masih menjadi legenda. Setelah itu, Arsenal memang konsisten di papan atas, namun belum pernah benar-benar mengancam posisi puncak.

Bagi Mikel Arteta, momen ini bukan sekadar soal gengsi, melainkan pembuktian bahwa proyeknya selama delapan tahun terakhir tidak sia-sia. Para pemain yang ia bentuk sejak awal kini telah melewati usia emas mereka, dan kali ini adalah momentum yang tidak boleh dilewatkan.

Kekuatan Skuad Arsenal Musim Ini

Perbedaan utama Arsenal musim ini dibandingkan periode sebelumnya terletak pada kedalaman skuad yang mumpuni. Bukayo Saka terus menunjukkan konsistensi sebagai salah satu winger terbaik Eropa dengan rasio gol dan assist yang impresif. Martin Odegaard menjadi otak serangan dengan visi umpan yang tajam dan kemampuan bertahan yang sering diremehkan.

Di lini belakang, William Saliba membentuk duet solid bersama Gabriel Magalhaes. Keduanya memberikan keseimbangan antara kecepatan, kekuatan udara, dan kemampuan bertahan satu lawan satu yang sangat dibutuhkan di level tertinggi. Kiper David Raya juga tampil lebih stabil dibandingkan pendahulunya.

Kehadiran Declan Rice sebagai jangkar lini tengah memberikan stabilitas yang selama ini kurang dimiliki Arsenal. Mantan kapten West Ham ini tidak hanya kuat dalam bertahan, tetapi juga piawai dalam membangun serangan dari lini kedua. Kedalaman skuad ini memungkinkan Arteta melakukan rotasi tanpa mengorbankan kualitas di setiap posisi.

Peran Kunci Mikel Arteta

Kedatangan Arteta di Emirates Stadium pada Desember 2019 awalnya diragukan banyak pihak. Mantan kapten Arsenal ini sebelumnya tidak memiliki pengalaman melatih tim senior secara penuh, ia hanya asisten Pep Guardiola di Manchester City. Namun, delapan tahun berjalan, ia berhasil membangun tim yang kompetitif di setiap lini dan memberikan identitas jelas pada skuad.

Arteta membentuk Arsenal dengan filosofi yang konsisten: pressing tinggi untuk merebut kembali bola secepat mungkin, transisi cepat untuk memaksimalkan kecepatan Saka dan Martinelli, serta disiplin pertahanan yang ketat di setiap lini. Pendekatannya tidak selalu mulus, seperti awal musim 2023-24 ketika mereka tertinggal jauh dari Liverpool, namun dampaknya terlihat jelas dalam konsistensi jangka panjang.

Kemampuannya menjaga keharmonisan ruang ganti juga patut diapresiasi. Dalam skuad dengan banyak pemain muda berbakat, menjaga chemistry bukanlah hal mudah. Namun, Arteta berhasil membuat setiap pemain merasa penting meskipun tidak semua mendapat waktu bermain yang sama.

Momen Penentu di Bulan Mei

Bulan ini akan menentukan apakah Arsenal masuk kategori tim spektakuler atau hanya tim yang bagus namun belum cukup. Leg kedua semifinal Liga Champions melawan Atletico di Emirates Stadium akan menunjukkan apakah Arsenal benar-benar bisa bersaing di level final. Jika mereka lolos, itu akan menjadi pencapaian luar biasa mengingat usia rata-rata skuad yang masih muda.

Namun, perjalanan tidak berhenti di situ. Meskipun lolos ke final UCL, Arsenal masih harus fokus di Premier League. Jarak poin dengan Liverpool dan Manchester City sangat tipis, setiap pertandingan tersisa ibarat final kecil yang harus dimenangi. Kebugaran pemain menjadi tantangan utama karena jadwal yang padat bisa menyebabkan cedera dan kelelahan.

Faktor Penentu yang Perlu Diwaspadai

Beberapa risiko masih menghantui langkah Arsenal. Lini belakang mereka kadang masih rapuh saat menghadapi serangan balik cepat, kelemahan yang sudah dieksploitasi oleh Manchester City di beberapa pertemuan musim ini. Selain itu, beban mental pemain muda di momen krusial juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Kehilangan satu pemain kunci dapat langsung memengaruhi konsistensi tim. Tidak ada skuad yang sempurna. Ketika Saka dan Odegaard sama-sama absen, Arsenal terbukti kesulitan menciptakan peluang bersih tanpa dua playmaker utama mereka. Rotasi yang tepat menjadi kunci menjaga performa di dua front.

Faktor lain yang perlu diwaspadai adalah pengalaman di momen-momen menentukan. Manchester City memiliki Pep Guardiola dan banyak pemain yang sudah merasakan tekanan final. Arsenal, sebaliknya, sebagian besar skuad belum pernah merasakan tekanan seperti itu. Faktor mentalitas bisa menjadi pembeda utama di bulan-bulan krusial.

Realistis atau Euforia?

Pertanyaan besarnya: apakah Arsenal benar-benar mampu meraih gelar ganda, Premier League dan Liga Champions, dalam satu musim?

Secara realistis, Manchester City tetap menjadi lawan tangguh di Premier League karena pengalaman mereka di momen-momen krusial dan kedalaman skuad yang superior. Di Liga Champions, Real Madrid dengan pengalaman final mereka yang panjang juga menjadi kekuatan yang tidak bisa diremehkan.

Namun, Arsenal musim ini berbeda. Mereka tidak lagi sekadar pengikut yang berlari tanpa arah. Mereka adalah tim yang tahu cara menang dan cara mengatasi tekanan. Pertahanan mereka lebih solid, lini tengah lebih seimbang, dan serangan lebih beragam. Jika Saka dan Odegaard tetap fit sepanjang Mei, dan jika lini belakang lebih konsisten, tidak ada yang tidak mungkin.

Kesimpulan

Arsenal berada di titik terbaik mereka dalam lebih dari dua dekade. Dua jalur menuju trofi besar ada di depan mata, ini adalah momentum yang tidak akan datang dua kali. Ambisi mereka untuk meraih gelar ganda bukan sekadar wacana.

Dengan skuad yang lebih matang, manajer yang sudah teruji, dan pengalaman yang terus bertambah, Arsenal memiliki fondasi yang kuat untuk mengakhiri penantian panjang mereka. Namun, semuanya tergantung pada bagaimana mereka melewati bulan Mei yang krusial ini.

Leg kedua semifinal Liga Champions Arsenal kontra Atletico Madrid akan menjadi batu loncatan penting. Jika mereka melaju ke final, itu akan menjadi pernyataan besar bahwa Arsenal benar-benar datang untuk bersaing di pentas Eropa terbaik. Mereka sudah waktunya membuktikan.