Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran menunjukkan sikap yang lebih terbuka untuk bernegosiasi di tengah blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan Trump pada Selasa, 5 Mei 2026, di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan strategis tersebut.
Pada saat yang sama, Trump juga melontarkan ancaman keras, memperingatkan bahwa akan ada konsekuensi yang menghancurkan jika Teheran berani menyasar kapal-kapal AS di dekat selat vital tersebut. “Persiapan Amerika sedang berlangsung, SEMUANYA SUDAH SIAP, kita bisa menggunakan semuanya!” kata Trump kepada Fox News pada Senin.
Ancaman ini muncul setelah pada Ahad malam, Trump mengumumkan peluncuran “Project Freedom,” sebuah operasi militer yang dirancang untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat keluar dari zona konflik.
Di sisi lain, stasiun televisi Iran IRIB melaporkan pada Senin bahwa militer Iran berhasil menggagalkan upaya masuknya kapal-kapal AS ke Selat Hormuz. Laporan tersebut mengklaim bahwa Iran menembakkan dua rudal ke arah sebuah kapal perang Amerika.
Namun, klaim Iran tersebut segera dibantah oleh Komando Pusat AS (CENTCOM). Operasi “Project Freedom” sendiri telah dimulai pada Senin pagi waktu Timur Tengah, menandai peningkatan kehadiran militer AS di wilayah tersebut.
CENTCOM pada Ahad sebelumnya telah merinci dukungan militer yang akan diberikan untuk “Project Freedom.” Dukungan tersebut mencakup pengerahan kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, serta melibatkan 15.000 personel militer. Pengerahan kekuatan ini menunjukkan keseriusan Amerika Serikat dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
