Perselisihan antara mantan Bupati Rokan Hulu (Rohul), Suparman, dan Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Pekanbaru, Iwan Pansa, memasuki babak baru yang kian memanas. Suparman secara terbuka melayangkan tantangan duel satu lawan satu kepada Iwan Pansa di hadapan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau pada Senin (4/5).

Langkah ekstrem ini diambil Suparman sebagai bentuk penyelesaian persoalan yang dinilainya telah menyentuh marwah atau harga diri. Kedua tokoh publik yang tengah bertikai ini sebelumnya sempat viral di jagat maya dan diketahui sama-sama memiliki rekam jejak sebagai mantan narapidana. Suparman tercatat pernah menjalani masa tahanan terkait kasus hukum pengesahan APBD Riau, sementara Iwan Pansa disebut pernah tersandung kasus kriminalitas.

Tantangan Terbuka di Sekretariat LAMR

Pernyataan tantangan tersebut disampaikan Suparman saat mendatangi sekretariat LAMR. Ia didampingi oleh Ketua LAMR Rohil, Datuk Taufik Tambusai, serta sejumlah perwakilan organisasi masyarakat (ormas) dan organisasi kepemudaan (OKP).

“Suparman tidak takut sama Iwan Pansa. Tolong sampaikan, kalau itu di luar kepentingan marwah, adu saya satu-satu atau tentukan harinya kita perang bersama-sama. Mereka banyak, kita banyak, atau kita satu lawan satu ditonton oleh lembaga adat. Ini resmi saya tantang satu lawan satu. Iwan Pansa, kau hadapi saya secara jantan,” tegas Suparman dengan nada tinggi.

Menempuh Jalur Adat dan Hukum

Meski melontarkan tantangan duel, Suparman menegaskan bahwa persoalan ini telah dibawa ke ranah adat dan hukum. Ia mengimbau masyarakat, khususnya puak Melayu, untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan anarkis yang dapat merusak ketertiban umum.

“Sekarang masalah ini sudah masuk wilayah adat dan wilayah hukum. Saya minta kepada puak Melayu untuk tertib dalam penegakan hukum, jangan gegabah dan jangan anarkis. Kita hantarkan maksud baik Datuk Taufik Tambusai ke Kepolisian Daerah Riau, dan saya juga sudah mengadu,” jelasnya.

Ia berharap laporan yang telah disampaikan ke Polda Riau mendapatkan perhatian serius dari pihak berwenang, terutama bagi mereka yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai dan marwah Melayu di Provinsi Riau.

Menjaga Adab dan Akhlak Melayu

Di tengah ketegangan tersebut, Suparman mengingatkan pentingnya menjaga citra masyarakat Melayu yang identik dengan kesantunan dan nilai-nilai agama yang kuat. Ia menekankan bahwa pihaknya sengaja belum mengerahkan massa dari Rokan Hulu sebagai bentuk penghormatan terhadap adab.

“Orang Melayu itu pasti baik, santun, akhlaknya baik, dan agamanya bagus. Maka yang berniat melaporkan ke Polda, antarkan laporan itu dengan baik dan santun, dan kita tunggu prosesnya,” kata Suparman.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa ketidakhadiran massa saat ini bukan merupakan tanda ketakutan. “Kalau sekarang kami dari Rohul belum mengerahkan orang, bukan berarti kami penakut. Kami berani, tetapi kami menghargai adab dan akhlak kami, kami menjaga marwah daerah kami,” pungkasnya.