Kiprah Indonesia sebagai salah satu kekuatan bulu tangkis dunia kini dipertanyakan menyusul kegagalan pahit di ajang Thomas Cup 2026. Tim beregu putra Indonesia secara mengejutkan tersingkir di babak fase grup, mencatatkan rekor buruk baru untuk kali pertama.

Hasil mengecewakan ini terjadi setelah Fajar Alfian dan kolega takluk 1-4 dari Prancis dalam laga yang digelar di Forum Horsens, Denmark, pada Selasa (28/4). Kekalahan ini sontak menjadi sorotan tajam bagi publik dan pengamat bulu tangkis nasional.

Pengamat bulu tangkis, Broto Happy Wondomisnowo, menilai bahwa muruah Indonesia di percaturan bulu tangkis dunia menjadi menurun drastis. “Indonesia sebagai kekuatan bulu tangkis dunia menjadi memudar setelah kalah dan tersingkir di babak fase grup Thomas Cup,” ujar pria yang akrab disapa BHW itu saat dihubungi pada Rabu (29/4).

Lebih lanjut, Broto menyoroti lawan yang mengalahkan Indonesia. “Terlebih kekalahan yang didapat dari Prancis yang notabene bukan negara dengan tradisi kuat bulu tangkis,” tambahnya, menggarisbawahi betapa mengejutkannya hasil tersebut.

Menurut Broto, hasil yang diraih tim beregu putra Indonesia di Thomas Cup 2026 sejatinya adalah tamparan keras untuk Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Sebagai federasi yang menaungi, seharusnya sejak awal sebelum tampil dilakukan evaluasi terlebih dahulu untuk mencegah kegagalan ini.

Kegagalan tim beregu putra di Thomas Cup 2026 ini memang membuat muruah Indonesia di kancah dunia mulai memudar, memicu desakan untuk perbaikan sistem pembinaan dan strategi ke depan.