Sorotan tajam menyelimuti pertandingan Championship Liga 2 2025/2026 antara Persiba Balikpapan dan PSS Sleman pada Minggu (26/4) di Stadion Batakan. Bukan hasil imbang 1-1 yang menjadi perbincangan, melainkan insiden ganjil terkait penggunaan Video Assistant Referee (VAR) yang memicu pertanyaan publik.
Insiden Ruang VAR Kosong
Kejanggalan terjadi pada menit ke-50 saat wasit Naufal Aditya meninjau potensi pelanggaran keras oleh pemain PSS Sleman, Rical Vieri. Setelah awalnya mengeluarkan kartu kuning, komunikasi melalui headset mengindikasikan kemungkinan pelanggaran yang lebih serius.
Namun, momen krusial muncul ketika siaran televisi menyorot ruang VAR. Ruangan tersebut tampak kosong melompong, tanpa kehadiran wasit VAR, asisten, maupun replay operator (RO) yang seharusnya bertugas.
Meskipun demikian, Naufal Aditya tetap melanjutkan proses peninjauan dan akhirnya mengubah keputusannya, mengganjar Vieri dengan kartu merah. Keputusan ini sontak menimbulkan tanda tanya besar mengenai validitas dan transparansi operasional VAR dalam pertandingan tersebut.
Tanggapan Operator Liga
Gelombang kritik dan kecurigaan pun langsung membanjiri media sosial, mempertanyakan profesionalisme penggunaan VAR di kasta kedua sepak bola Indonesia. Menanggapi polemik ini, Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, segera memberikan klarifikasi.
Ferry Paulus membantah keras adanya kelalaian dalam operasional VAR. Ia menegaskan bahwa seluruh perangkat VAR tetap bekerja sesuai prosedur dan berada di tempatnya sepanjang pertandingan berlangsung.
Menurut Ferry, kejanggalan visual yang terekam di layar televisi hanyalah akibat kesalahan teknis pada sistem siaran. Pernyataan ini bertujuan meredakan kekhawatiran publik terkait integritas penggunaan teknologi VAR di Liga 2.
