Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan proses pemulihan di Aceh berjalan secara terarah dan berkelanjutan. Fokus utama diarahkan pada percepatan pembangunan infrastruktur, pemulihan layanan publik, serta penguatan ekonomi bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Kepala Pos Komando Wilayah (Kaposwil) Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal Zakaria Ali, menyatakan bahwa kondisi pemerintahan di wilayah terdampak kini telah kembali stabil. Layanan publik telah beroperasi normal, dan aparatur negara kembali menjalankan tugas di masing-masing instansi untuk memenuhi kebutuhan administratif masyarakat.

Konsistensi Pemerintah dalam Pemulihan

“Pemerintah hadir dan bekerja. Konsistensi ini krusial untuk memastikan proses pemulihan berjalan terarah dan berkelanjutan,” ujar Safrizal di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan, berbagai indikator kemajuan telah terlihat, mulai dari pemulihan infrastruktur hingga penanganan lingkungan. Prioritas utama dalam tahap rehabilitasi mencakup fasilitas kesehatan, tempat ibadah, serta konektivitas antarwilayah. Selain itu, program pembersihan material sisa bencana melalui skema cash for work dinilai memberikan dampak ganda, yakni mempercepat pemulihan lingkungan sekaligus menjadi stimulus ekonomi bagi masyarakat lokal.

Percepatan Hunian dan Penguatan Ekonomi

Di sektor hunian, pemerintah terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) untuk memberikan kepastian tempat tinggal bagi warga terdampak. Pada sektor sosial dan ekonomi, aktivitas pendidikan dilaporkan telah kembali berjalan normal. Pemerintah juga memperkuat ekonomi lokal serta memastikan distribusi bantuan berlangsung lebih efektif dan tepat sasaran.

Peran Kepemimpinan dan Kolaborasi Akademisi

Safrizal turut menekankan pentingnya stabilitas kepemimpinan dalam masa transisi. Dengan pengalamannya sebagai Penjabat Gubernur Aceh, ia dinilai mampu menjaga kondusivitas daerah, termasuk dalam mengawal transisi politik dan mendukung integritas akademik di Universitas Syiah Kuala melalui perannya sebagai Ketua Majelis Wali Amanat.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan kalangan akademisi menjadi faktor penting agar kebijakan pemulihan dapat berbasis data dan tepat sasaran.

Tantangan dan Sinergi Seluruh Pihak

Safrizal mengakui bahwa tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Namun, ia menegaskan bahwa besarnya tantangan tersebut harus dijawab dengan kerja keras dan sinergi dari seluruh pihak. Keberhasilan pemulihan, lanjutnya, tidak hanya diukur dari kecepatan, tetapi dari sejauh mana setiap langkah mampu memastikan masyarakat Aceh bangkit kembali dengan kondisi yang lebih kuat dan berkelanjutan.