Militer Amerika Serikat (AS) pada Senin (13/4) memulai blokade angkatan laut terhadap semua lalu lintas maritim yang berupaya masuk atau keluar dari pelabuhan Iran. Langkah ini diambil di tengah gencatan senjata antara kedua belah pihak, meningkatkan potensi konfrontasi baru di sekitar Selat Hormuz dan mengancam kelangsungan gencatan senjata sementara.
Blokade tersebut dikonfirmasi langsung oleh Presiden AS, Donald Trump, saat berbicara kepada wartawan di Washington. Keputusan ini diambil menyusul kegagalan pembicaraan tingkat tinggi antara AS dan Iran selama akhir pekan yang tidak menghasilkan terobosan.
Trump menjelaskan bahwa langkah tersebut bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz guna menurunkan harga bensin global dan menekan Iran agar kembali ke meja perundingan. Ia menegaskan tidak akan mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir.
Berbicara di Gedung Putih, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran akan setuju untuk meninggalkan ambisi nuklirnya. Ia menambahkan bahwa “pihak yang tepat” di Iran telah menghubungi AS pada pagi hari dan menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan.
“Kita tidak bisa membiarkan suatu negara memeras atau mengancam dunia, karena itulah yang mereka lakukan. Mereka benar-benar memeras dunia. Kita tidak akan membiarkan itu terjadi,” ucap Trump.
Setelah kegagalan perundingan di Pakistan, Trump memperkeras sikap terhadap Iran, yang sebelumnya telah menutup Selat Hormuz bagi kapal tanker sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pada akhir Februari. Penutupan selat tersebut, ditambah dampak kegagalan pembicaraan damai, telah mendorong kenaikan tajam harga bensin, pangan, dan berbagai komoditas di seluruh dunia.
Sebelumnya pada Senin, Trump kembali mengancam melalui media sosial bahwa kapal perang Iran yang mendekati kapal AS dalam operasi blokade akan segera dihancurkan. Komando Pusat Militer AS menyatakan bahwa blokade diberlakukan tanpa pandang bulu terhadap kapal dari semua negara yang keluar masuk pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Pekan lalu, Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan. Namun, kedua negara masih berselisih terkait syarat-syarat kesepakatan tersebut. Iran bereaksi keras terhadap ancaman terbaru dari AS. Pasukan Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap pendekatan kapal militer ke arah Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak tegas.
