Populasi ikan endemik di perairan umum Jawa Timur menunjukkan tren peningkatan signifikan berkat program pembiakan dan penebaran kembali (restocking) yang digagas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Timur. Upaya ini berhasil memulihkan jumlah ikan lokal yang sempat menurun drastis, sekaligus memberikan dampak positif bagi nelayan.

Ketua Tim Kerja (Katimja) Kesehatan Ikan dan Lingkungan DKP Jawa Timur, Umi Utami Dewi, mengungkapkan bahwa penurunan populasi ikan endemik pernah menjadi perhatian serius. “Kalau menurut sensus dari Bappeda, jumlah ikan (endemik) di perairan Jawa Timur memang sempat menurun, terutama dalam rentang tahun 2009 sampai 2013,” jelas Umi, usai kegiatan penebaran benih di Sumber Banteng, Kota Kediri, Jumat (13/3/2026) lalu.

Strategi Pemulihan Melalui Restocking

Menanggapi kondisi tersebut, DKP Jawa Timur menginisiasi program pengembangan pembiakan ikan lokal. Indukan ikan diambil dari alam, kemudian dikembangbiakkan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik DKP di Umbulan, Pasuruan. Setelah berhasil dibudidayakan, benih-benih ikan tersebut kembali dilepas ke perairan umum.

“Tujuannya agar jumlah ikan di alam bisa bertambah kembali, terutama untuk jenis-jenis ikan lokal,” terang Umi. Program restocking ini dimulai sejak 2013, dengan kegiatan penebaran benih secara rutin berlangsung dari 2019 hingga saat ini. Diperkirakan jutaan ekor benih telah dilepas ke berbagai perairan, termasuk 13.000 benih yang baru-baru ini ditebar di Kota Kediri.

Dampak Positif dan Tantangan

Monitoring dan evaluasi yang dilakukan DKP di sejumlah lokasi penebaran menunjukkan hasil yang menggembirakan, berupa peningkatan populasi dan ukuran ikan yang semakin besar. “Nelayan pancing di sekitar perairan umum juga merasakan dampaknya. Setelah sekitar enam bulan penebaran, mereka mengaku lebih mudah mendapatkan ikan dibanding sebelumnya,” kata Umi.

Meski demikian, Umi juga menyoroti beberapa ancaman yang masih membayangi kelestarian ikan lokal. Praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan setrum dan jaring berlebihan, menjadi salah satu penyebab utama penurunan populasi di masa lalu. Selain itu, keberadaan ikan invasif juga menjadi tantangan serius.

“Ikan seperti nila dan lele bukan ikan asli Indonesia. Ketika masuk ke suatu perairan, ikan nila biasanya akan mendominasi sehingga ikan lokal semakin berkurang,” tegasnya.

Keanekaragaman Ikan Lokal yang Dibudidayakan

Saat ini, DKP Jawa Timur telah berhasil mendomestikasi sekitar 22 jenis ikan lokal di UPT Umbulan. Beberapa di antaranya adalah:

  • Ikan wader (varietas wader pari dan wader cakul)
  • Ikan tawes
  • Ikan nilem
  • Ikan banderang
  • Ikan sengkaring
  • Ikan dewa

Ikan wader menjadi primadona budidaya karena tingginya permintaan pasar, terutama sebagai bahan kuliner khas Jawa Timur. Sementara itu, ikan dewa memiliki nilai ekonomi dan prestise yang tinggi, bahkan harganya bisa mencapai Rp700 ribu per kilogram, sering dicari untuk perayaan tertentu seperti Imlek.

Kolaborasi dengan Pembudidaya Lokal

Ke depan, DKP Jawa Timur berencana memperluas budidaya ikan lokal dengan menggandeng kelompok pembudidaya ikan (pokdakan). Saat ini, dua hingga tiga kelompok di Pasuruan telah dibina untuk mengembangkan budidaya ikan lokal, dengan suplai bibit dari DKP.

Para pembudidaya juga didorong untuk belajar melakukan pembenihan sendiri. “Sebenarnya ikan yang sudah besar bisa dijadikan indukan. Tapi memang membutuhkan keahlian, sehingga para pembudidaya bisa belajar langsung di UPT kami,” pungkas Umi.

Melalui berbagai upaya ini, DKP Jawa Timur berharap populasi ikan lokal di perairan umum dapat terus meningkat, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.