Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (FWE) NTB menggelar edukasi literasi keuangan di Pondok Pesantren (Ponpes) Yatim dan Dhuafa Nurul Hikmah Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, pada Kamis (12/3). Kegiatan ini juga diiringi dengan penyaluran paket berbuka puasa bagi para santri dan santriwati.
Kepala OJK NTB, Rudi Sulistyo, menegaskan bahwa keterlibatan pesantren dalam program literasi keuangan sangat strategis. Menurutnya, lembaga pendidikan berbasis keagamaan ini memiliki komunitas besar dan aktivitas ekonomi yang terus berkembang.
Perluas Ekosistem Literasi Keuangan
“Kolaborasi dengan pondok pesantren menjadi salah satu upaya kami dalam memperluas ekosistem literasi dan inklusi keuangan di masyarakat,” ujar Rudi Sulistyo.
Rudi menjelaskan, OJK mengembangkan program penguatan ekosistem keuangan yang dikenal dengan EPICS. Program ini awalnya difokuskan pada ekosistem pesantren, namun kini diperluas menjadi pusat impuls keuangan sehari-hari bagi masyarakat.
“Program ini sudah dilaksanakan di beberapa wilayah dan ke depan akan terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan edukasi keuangan,” tambahnya.
Peningkatan literasi keuangan di kalangan santri dinilai penting karena mereka merupakan generasi muda yang mulai memasuki fase kemandirian ekonomi. OJK memberikan materi edukasi yang tidak hanya teoritis, tetapi juga dilengkapi praktik langsung agar mudah dipahami.
Materi Edukasi dan Kewaspadaan Risiko
Materi literasi mencakup pemahaman mengenai produk perbankan, layanan keuangan digital, hingga peluang usaha melalui agen layanan keuangan di masyarakat. Rudi Sulistyo menyatakan, “Santri diperkenalkan dengan berbagai produk keuangan serta peluang usaha seperti membuka agen layanan keuangan atau agen perdagangan yang bisa menjadi sumber pendapatan tambahan.”
Selain itu, edukasi juga difokuskan pada peningkatan kewaspadaan terhadap berbagai risiko keuangan. Hal ini termasuk praktik investasi ilegal dan pinjaman online (pinjol) yang tidak terdaftar. Rudi menegaskan pentingnya pemahaman ini agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam penawaran investasi yang merugikan.
“Kami ingin para remaja memahami penggunaan layanan keuangan digital dengan bijak sehingga tidak tertipu investasi bodong ataupun pinjaman online ilegal,” katanya.
Dukungan Pesantren untuk Pengelolaan Keuangan
Pimpinan Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Nurul Hikmah Langko, TGH Azhar Rasyidi, menyambut positif program literasi keuangan OJK. Ia menilai kegiatan ini membuka peluang bagi pesantren untuk lebih aktif mengembangkan potensi ekonomi di lingkungannya.
Azhar mengakui bahwa pesantren memiliki aktivitas ekonomi yang cukup besar dengan perputaran dana harian melalui berbagai kegiatan pendidikan dan usaha santri. “Program ini sangat baik karena pesantren juga memiliki aktivitas ekonomi yang cukup besar dan membutuhkan pengelolaan yang lebih baik,” ucapnya.
Ia berharap pendampingan dan edukasi dari OJK dapat membantu pesantren meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan sekaligus mendorong tumbuhnya kewirausahaan di kalangan santri. Dengan literasi keuangan berkelanjutan, Azhar optimistis pesantren dapat mencetak generasi yang kuat dalam agama dan finansial, serta berkontribusi pada penguatan ekonomi masyarakat.
