Utusan Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, pada Selasa (10/3/2026) memperingatkan bahwa rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang didukung negara-negara Teluk akan secara permanen merusak reputasi badan tersebut. Rancangan resolusi itu mengecam serangan Iran di kawasan, namun Iravani menilai resolusi tersebut bias dan bermotif politik.

Iran Kecam Resolusi yang Bela AS-Israel

Dalam naskah yang beredar menjelang pemungutan suara yang dijadwalkan pada Rabu (11/3/2026), Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dilaporkan mengutuk serangan rudal dan drone Iran terhadap Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Rancangan tersebut juga menuntut penghentian segera semua serangan.

“Beberapa anggota Dewan berusaha untuk membalikkan peran dan posisi korban dan agresor,” kata Iravani dalam konferensi pers di markas besar PBB di New York. Menurutnya, rancangan resolusi itu berupaya memberi penghargaan kepada agresor dan menghukum korban.

“Tindakan seperti itu, jika diadopsi, akan sangat merusak dan melemahkan kredibilitas dan legitimasi Dewan,” tegas Iravani. Ia juga memperingatkan bahwa resolusi tersebut akan memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius.

“Jika rancangan diadopsi, itu akan mencoreng kredibilitas dan reputasi Dewan Keamanan,” ujar Iravani. Ia menambahkan, “jika terjadi, agresor yaitu Israel dan Amerika Serikat akan diberi penghargaan dan didorong untuk melakukan tindakan agresi lebih lanjut.”

Dampak Jangka Panjang dan Korban Sipil

Iravani selanjutnya memperingatkan bahwa taruhan dari resolusi ini jauh melampaui Iran. “Hari ini, itu adalah Iran. Besok, bisa jadi negara berdaulat lainnya,” katanya. Ia menyerukan masyarakat internasional untuk bertindak.

“Masyarakat internasional harus bertindak sekarang untuk menghentikan perang berdarah ini terhadap rakyat Iran,” desaknya.

Ia juga menyoroti korban serangan AS-Israel, berpendapat bahwa “mereka sengaja dan secara diskriminatif menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil di seluruh negara saya.”

Iravani menyebutkan data bahwa terdapat lebih dari 1.300 korban sipil. Selain itu, 9.669 lokasi sipil hancur, termasuk 7.943 rumah tinggal dan 1.617 pusat komersial serta layanan. “Angka-angka ini terus meningkat setiap hari seiring dengan serangan militer berkelanjutan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap kejahatan perang di berbagai kota di Iran,” tambahnya.