Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim) melakukan audit menyeluruh terhadap 71 unit Sistem Peringatan Dini (EWS) yang tersebar di berbagai wilayah rawan bencana. Langkah ini diambil menyusul intensitas cuaca ekstrem yang melanda Jatim belakangan ini, guna memastikan kesiapan alat dalam menghadapi potensi bencana.

“Ada 71 titik EWS milik BPBD Jatim yang dipasang di sejumlah daerah di Jatim yang rawan bencana, semua kita periksa satu persatu,” kata Kepala BPBD Jatim Gatot Subroto di Surabaya, Jumat (6/3).

Kegiatan pengecekan EWS ini telah dimulai sejak Senin (2/3) di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya pada EWS sirine tsunami di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran. Audit kemudian berlanjut ke sejumlah kabupaten lain seperti Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, hingga Pacitan.

Jenis-jenis EWS yang Diaudit

Sebanyak 71 unit EWS yang diperiksa meliputi 27 titik EWS banjir, 27 titik EWS longsor, dan 17 titik sirine tsunami. Pengecekan ini bertujuan untuk memastikan kondisi fisik dan fungsi setiap alat dapat bekerja optimal sebagai peringatan dini bagi masyarakat sekitar.

Gatot menegaskan, di tengah cuaca ekstrem yang masih berlangsung, pihaknya terus meminta dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal ini utamanya berlaku bagi masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana, baik banjir, longsor, maupun tsunami.

“Selain masyarakat yang harus meningkatkan kewaspadaannya, peralatan EWS juga kami cek kondisinya dan personel BPBD juga kami tingkatkan kesiagaannya,” terangnya.

Meskipun perkembangan EWS di Jatim dapat dipantau melalui dashboard di kantor, Gatot menekankan pentingnya pengecekan langsung ke lapangan. “Pengecekan langsung ke lapangan juga perlu dilakukan, agar kami bisa mengetahui kondisi riil EWS di lokasi, supaya bisa menjadi alat deteksi dini bagi masyarakat sekitar jika terjadi bencana,” katanya.

Manfaat EWS Dirasakan Langsung Masyarakat

Keberadaan EWS telah terbukti sangat membantu masyarakat di daerah rawan bencana. Abdul Ghafur, Kepala Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, mengungkapkan bahwa warganya sangat terbantu dengan EWS banjir di wilayahnya.

“Kebetulan warga desa kami masih banyak yang sering mandi di sungai, meski mereka sudah punya kamar mandi di rumah. Mereka sering menerima peringatan dini dari alarm yang berbunyi saat air mulai naik,” terang Abdul Ghafur saat ditemui Tim BPBD Jatim di kantornya, Selasa (3/3). Sekitar 800 KK warganya di dua dusun sering mendapat peringatan dini dari alarm tersebut.

Manfaat serupa juga disampaikan Candra Kristianto, perangkat Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, yang memiliki EWS longsor. EWS yang berlokasi di kaki bukit Kelopo Kembar ini menjadi upaya deteksi dini bagi warga sekitar.

“Sudah beberapa kali kami coba, suara alarmnya cukup keras, terdengar hingga di perempatan jalan desa yang jaraknya lebih dari satu kilometer,” terangnya kepada Tim BPBD Jatim.

Heri, warga Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger, Jember, juga merasakan kebermanfaatan EWS tsunami di wilayahnya. Selain sirine, speaker uji coba EWS juga sangat berguna untuk memberikan woro-woro kepada pengunjung Pantai Cemara.

“Speaker itu biasa kami gunakan untuk memberikan peringatan kewaspadaan kepada para pengunjung yang biasa datang bersama anak-anak, agar tidak lengah memantau anak-anaknya yang saat bermain di pantai,” ujarnya.

Sumber Gambar: https://kilatnews.co/akibat-cuaca-ekstrem-bpbd-jatim-audit-kelayakan-71-unit-sistem-peringatan-dini/