Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), menerima kucuran dana sebesar Rp25 miliar dari pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS). Anggaran tersebut dialokasikan untuk program normalisasi dua sungai utama di Mataram sebagai upaya antisipasi banjir.

Normalisasi Sungai Ancar dan Kali Unus

“Bantuan anggaran itu untuk normalisasi Sungai Ancar Rp10 miliar dan Kali Unus Rp15 miliar,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning di Mataram, Rabu.

Lale menjelaskan, besarnya alokasi dana ini disebabkan program normalisasi tidak hanya mencakup pengerukan sedimen, tetapi juga pembangunan kembali tebing sungai yang mengalami kerusakan parah. Kerusakan tersebut merupakan dampak dari banjir besar yang melanda Mataram pada 6 Juli 2025 lalu.

Menurutnya, pengerjaan akan difokuskan pada titik-titik yang rusak dan dinilai rawan untuk meminimalkan risiko banjir di wilayah perkotaan di masa mendatang. Panjang perbaikan secara rinci belum dapat disebutkan karena pengerjaan bersifat mitigasi bencana pada titik-titik spesifik.

Peran Pusat dan Daerah

Dalam pelaksanaan program normalisasi ini, seluruh kegiatan sepenuhnya ditangani langsung oleh pemerintah pusat melalui BWS. Kota Mataram akan menerima hasil akhir dari pengerjaan tersebut.

“Meski anggaran berasal dari pusat, kami tetap melakukan koordinasi intensif untuk memantau pemetaan lokasi yang paling mendesak untuk ditangani,” ujar Lale.

Lale menambahkan, banjir pada 6 Juli 2025 tidak hanya merusak aliran sungai, tetapi juga menyebabkan longsor di beberapa titik serta kerusakan pada saluran, drainase, dan irigasi kota. Oleh karena itu, penanganan segera diperlukan agar seluruh sistem berfungsi optimal saat debit air meningkat di musim hujan.

Untuk penanganan fasilitas yang mendesak dan tidak termasuk dalam program BWS, Pemkot Mataram mengalokasikan anggaran dari APBD Perubahan Kota Mataram. “Untuk penanganan fasilitas mendesak, kami menggunakan anggaran dari APBD Perubahan Kota Mataram sebesar Rp7 miliar,” tegas Lale.

Diharapkan, penataan aliran sungai oleh BWS ini dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga yang tinggal di sekitar sungai, serta mencegah terjadinya banjir saat cuaca ekstrem melanda.

sumber gambar: gesit.id