Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan penambahan fasilitas gedung penunjang kegiatan belajar mengajar dan tenaga pendidik untuk sekolah rakyat terus berlanjut. Meski demikian, kekurangan guru di sejumlah titik masih menjadi perhatian pemerintah.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan, pemerintah tengah membahas kebutuhan tambahan guru bersama Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan kementerian terkait. “Kita masih bahas kebutuhannya bersama teman-teman BKN. Karena memang di beberapa titik masih ada kekurangan guru,” kata Mensos Saifullah di sela acara buka puasa bersama dengan guru dan siswa sekolah rakyat di ICE BSD Tangerang, Jumat (27/2/2026).

Saifullah Yusuf juga menegaskan bahwa para guru yang mengajar di sekolah rakyat telah melalui proses seleksi ketat. Mereka merupakan guru bersertifikat dan telah mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Proses seleksi ini dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama BKN, serta didampingi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB).

“Rata-rata guru masih muda, di bawah 30 tahun, dan memiliki kemampuan mengajar yang memadai. Mereka sudah beradaptasi selama enam bulan terakhir,” tambahnya.

Selain penambahan guru, pemerintah juga tengah membangun gedung permanen di 104 titik lokasi sekolah rakyat. Setiap gedung dirancang untuk mampu menampung hingga 1.000 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA.

Selama masa rintisan program, kegiatan belajar mengajar masih memanfaatkan gedung milik Kementerian Sosial, Kementerian Ketenagakerjaan, balai milik Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Diktasmen), serta fasilitas pemerintah daerah.

Mensos Saifullah menjelaskan, setelah gedung permanen selesai, siswa akan dipindahkan ke fasilitas yang lebih lengkap. Fasilitas tersebut mencakup asrama siswa dan guru, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, aula, hingga sarana ekstrakurikuler.

Siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga prasejahtera, yakni kelompok desil satu dan dua, atau kategori miskin dan miskin ekstrem. Program ini merupakan wujud perhatian pemerintah terhadap keluarga yang kesulitan menyekolahkan anak-anaknya.

“Ini adalah gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan kesempatan pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga yang kurang mampu,” jelasnya.

Konsep Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah berasrama (boarding school) yang tidak hanya memberikan pelajaran akademik, tetapi juga pendidikan karakter. Karakteristik siswa Sekolah Rakyat juga istimewa, karena tidak ada tes akademik dalam penerimaan siswa, melainkan berdasarkan pemenuhan syarat administratif. Bahkan, sebagian siswa sebelumnya sempat putus sekolah.

“Tapi saya mengaku gembira melihat perkembangan siswa yang dinilai semakin percaya diri dan mampu mengikuti pembelajaran dengan baik,” tutup Saifullah Yusuf.