Tim SAR gabungan bersama nelayan tengah melakukan pencarian terhadap Rustam (45), seorang warga Desa Montong Ajan, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dilaporkan hilang terseret ombak di Pantai Torok Aik Belek pada Sabtu dini hari.

Camat Praya Barat Daya, Husnan, menjelaskan bahwa peristiwa nahas itu bermula saat korban bersama anaknya dan sejumlah warga lain turun ke laut di Pantai Torok Aik Belek untuk mencari nyale atau cacing laut. Nyale dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Setelah beberapa waktu mencari nyale menggunakan jaring, ember, dan lampu senter, anak korban melihat Rustam terseret arus ombak di pantai tersebut. “Pertama kali korban dilihat anaknya terseret arus ombak,” ujar Husnan saat berada di lokasi kejadian di Lombok Tengah, Sabtu.

Melihat kejadian tersebut, anak korban segera memberitahu warga lain yang juga sedang mencari nyale, kemudian informasi diteruskan kepada Kepala Dusun. Tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, serta nelayan, kini menyisir wilayah pantai setempat.

“Untuk sekarang warga sedang melakukan pencarian bersama Tim SAR gabungan,” tambah Husnan.

Peringatan Cuaca Ekstrem BMKG

Peristiwa ini terjadi di tengah peringatan dini cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah NTB. BMKG sebelumnya memprakirakan kemunculan dua bibit siklon tropis di Samudera Hindia berpotensi memicu cuaca ekstrem di NTB pada 3 hingga 8 Maret 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Satria Topan Primadi, mengidentifikasi keberadaan bibit siklon tropis 90S di Samudera Hindia selatan Pulau Jawa dan bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia barat Australia. “Saat ini dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas yang signifikan di sekitar wilayah NTB,” kata Satria.

Kedua bibit badai tropis tersebut, yang muncul bersamaan, berkontribusi pada peningkatan suplai massa udara basah dan penguatan pertumbuhan awan hujan di NTB. Selain itu, gelombang atmosfer aktif seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Low Frequency, dan gelombang Kelvin turut memperkuat proses konvektif.

Kondisi ini diperparah oleh perlambatan kecepatan angin serta kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai lapisan atmosfer. Satria memaparkan, “Kondisi atmosfer ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan kumulonimbus yang dapat menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat di sertai petir atau kilat dan angin kencang.”

Hampir seluruh kabupaten dan kota di NTB berpeluang terdampak cuaca ekstrem akibat gangguan atmosfer ini.