Perayaan Lailatul Bara’ah atau Malam Nisfu Syakban di Provinsi Aceh tahun ini berlangsung penuh khidmat, diwarnai dengan doa bersama untuk pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatra pada November 2025 lalu. Warga di bumi berjulukan Serambi Mekah tersebut menggelar berbagai tradisi religi bernuansa Islam dan kearifan lokal, seperti kenduri buru’at, salat tasbih, dan zikir samadiah.
Tradisi ini dimulai pada Senin, 2 Februari 2026, bertepatan dengan 15 Syakban 1447 Hijriah, dan berlanjut hingga 16-17 Syakban. Pelaksanaan ibadah dan tradisi Nisfu Syakban tidak hanya terpusat di masjid, meunasah (musala desa), pesantren, atau tempat pengajian, tetapi juga digelar di lokasi-lokasi pengungsian banjir bandang Sumatra. Beberapa lokasi tersebut meliputi Desa Blang Naleung Maneh di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe; Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya; Aceh Tiang, Aceh Tengah; hingga Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues.
Doa Bersama untuk Ampunan dan Pemulihan
Melalui rangkaian doa dan ibadah di pertengahan bulan Syakban ini, masyarakat memanjatkan permohonan ampunan dan magfirah dari Yang Maha Kuasa. Tak luput, mereka juga memohon agar dijauhkan dari marabahaya dan segera kembali pulih dari musibah banjir serta tanah longsor yang telah menghancurkan 89.582 hektare sawah di Aceh.
Seluruh warga kampung atau tempat pemondokan pendidikan secara berjemaah merayakan acara penuh makna ini secara mandiri. Di Gampong (Desa) Neulop, Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, misalnya, kaum lelaki dan anak-anak mulai berkumpul di meunasah sekitar pukul 18.00 WIB pada Senin (2/2). Mereka menanti waktu Magrib untuk salat berjemaah, zikir samadiah, dan berdoa bersama agar banjir besar tidak terulang kembali.
Setelah itu, hidangan kenduri yang dibawa dari kelompok dusun warga dalam Desa Neulop langsung dibuka untuk dinikmati bersama. “Biasanya malam 15 Syakban sedekah kenduri dari Dusun Teungku Chik, malam 16 dan 17 dikeluarkan oleh kelompok warga dusun lain lagi,” tutur Mahmud, tokoh Masyarakat Desa Neulop.
Usai mencicipi kenduri bara’ah, warga menunaikan salat Isya berjemaah dan dilanjutkan dengan salat tasbih. Upacara ibadah dan rangkaian tradisi religi ini baru selesai sekitar pukul 22.00 WIB.
Semangat Siswa dan Jemaah Masjid
Nuansa menyambut malam Nisfu Syakban juga dilestarikan oleh siswa-siswi Sekolah Sukma Bangsa Pidie di Kompleks Kampus Gampong Balee, Kemukiman Pineung, Kecamatan Peukan Baro. Mereka berkumpul di musala kompleks sekolah untuk menggelar salat tasbih empat rakaat yang mengandung 300 kali bacaan tasbih. Salat sunat yang sangat dianjurkan dalam Mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Maliki ini digelar seusai salat berjemaah Isya.
Seiring menunaikan salat sunat yang dianjurkan Rasulullah SAW, para murid sekolah berkarakter tersebut tidak lupa membaca Yasin serta doa bersama. “Di malam yang makbul doa ini, kami meminta dijauhkan dari fitnah kubur selamat du blang padang mahsyar. Tidak lupa meminta orangtua dan saudara kami segera bangkit serta pulih kembali dari bencana banjir besar Sumatra,” ujar seorang siswi Sekolah Sukma Bangsa Pidie.
Ratusan jemaah Masjid Taqwa Lampoih Saka di Kecamatan Peukan Baro, Pidie, juga turut meramaikan salat tasbih bersama salat Isya. Mereka mendengarkan tausiah setelah melaksanakan serangkaian bacaan surat Yasin dan doa bersama. Para kaum ibu tampak sangat tekun dan khidmat mengikuti wirid dan samadiah, bahkan sampai terharu kala berdoa untuk korban banjir yang masih di pengungsian menjelang bulan Ramadan.
“Ini awal dari salat sunat paling ramai dihadiri jemaah sebelum Ramadan. Ya Allah sampaikan kami menemui bulan belan suci Ramadan penuh ampunan,” tutur Bukhari Thahir, Ketua Badan Kesejahteraan Masjid Taqwa Lampoih Saka.
