Wakil Menteri Komunikasi Malaysia Teo Nie Ching secara resmi membuka Sidang Umum ke-21 Konfederasi Jurnalis ASEAN (CAJ) di Kuala Lumpur pada Senin (27/4/2026). Dalam kesempatan itu, Teo menyoroti peran krusial jurnalis sebagai arsitek akurasi dan konteks di tengah lanskap global yang penuh ketidakpastian dan disrupsi teknologi.
Teo menyampaikan rasa bangganya dapat berkumpul bersama salah satu jaringan jurnalis paling lama berdiri dan paling aktif di kawasan. “Sejak tahun 1975 CAJ telah memainkan peran penting dalam menjembatani keberagaman budaya kita dan memperkuat pemahaman regional,” ujar Wamen Teo.
Dia menjelaskan, lanskap global saat ini ditandai oleh tingkat keterhubungan yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana peristiwa di Asia Barat bukan lagi sekadar gema yang jauh, melainkan kekuatan aktif yang membentuk narasi lokal. “Dalam situasi yang penuh gejolak seperti ini, peran jurnalis melampaui sekadar pelaporan. Anda adalah arsitek utama akurasi dan konteks,” tegas Teo.
Di dalam ASEAN, jurnalis memikul tanggung jawab lebih luas untuk memperkuat saling pengertian, mendukung integrasi regional, dan menjaga kepercayaan publik. Ancaman terhadap integritas informasi semakin meningkat, terutama dengan lebih dari setengah miliar pengguna internet di Asia Tenggara.
Pemerintah Malaysia, kata Teo, tetap teguh dalam komitmennya terhadap profesionalisme media dan kebebasan pers. Komitmen ini didukung oleh upaya panjang National Union of Journalists Malaysia (NUJM) dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan jurnalis.
Kecerdasan Buatan dan Tantangan Jurnalisme
Teo menyebut tema Sidang Umum CAJ, “Masa Depan AI dan Dampaknya terhadap Jurnalisme,” sangat relevan dan krusial. Kecerdasan buatan (AI) kini mengubah cara informasi diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi.
Teknologi ini menawarkan peluang besar, mulai dari meningkatkan efisiensi ruang redaksi hingga memperkuat analisis data dan membuat konten lebih mudah diakses, terutama bagi penyandang disabilitas. Namun, kemajuan tersebut juga membawa risiko serius, seperti penyalahgunaan hak kekayaan intelektual, ketidakakuratan dalam konten yang dihasilkan AI, serta menurunnya kepercayaan publik. Isu-isu ini harus ditangani dengan hati-hati.
“Sikap kami jelas. Jurnalisme harus tetap berakar pada manusia. AI harus menjadi alat pendukung jurnalis, bukan menggantikan penilaian manusia, etika, dan akuntabilitas,” jelas Teo.
Dia juga mencermati pentingnya menangkal berita palsu yang kian mudah tersebar seiring perkembangan teknologi. Teo meyakini, melalui kerja sama regional yang kuat dan tanggung jawab bersama, tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi secara efektif.
Lebih jauh, ia menyatakan pentingnya jurnalis ASEAN untuk terus memperkuat kolaborasi dalam berbagi pengetahuan dan pengembangan kapasitas. ASEAN juga harus mendorong terciptanya ekosistem digital yang adil dan seimbang, di mana platform global beroperasi secara bertanggung jawab serta menghormati nilai dan konteks kawasan.
“Dengan semangat persatuan dalam keberagaman, saya yakin jurnalis ASEAN akan terus menjadi jembatan bagi perdamaian, pemahaman, dan kerja sama. Dengan ini, dengan penuh kehormatan, saya secara resmi menyatakan dibukanya Sidang Umum ke-21 Konfederasi Jurnalis ASEAN,” pungkas Teo.
PWI Harapkan Integritas Jurnalistik Terjaga, Kepemimpinan CAJ Beralih ke Malaysia
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir menyampaikan ucapan selamat dan harapannya agar Sidang Umum CAJ semakin memperkuat komitmen bersama. “Terimalah harapan terbaik kami untuk kepemimpinan NUJ yang sukses di CAJ,” ujar Akhmad Munir, sembari berharap integritas jurnalistik, kebebasan pers, dan ekosistem media yang tangguh serta bertanggung jawab di kawasan dapat terus terbina.
Dalam rangkaian Sidang Umum ke-21 CAJ, juga dilakukan penyerahan kepemimpinan CAJ dari Indonesia kepada Malaysia. Prosesi ini ditandai dengan penyerahan pataka atau panji bendera CAJ oleh Presiden CAJ sebelumnya Atal S. Depari kepada Presiden baru CAJ Low Boon Tat.
Penyerahan pataka CAJ disaksikan langsung oleh Wakil Menteri Komunikasi Malaysia YB Teo Nie Ching, Ketua Umum PWI Akhmad Munir, serta delegasi PWI dan persatuan wartawan dari negara-negara anggota ASEAN.
Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan persatuan jurnalis dari Korea Selatan dan China, Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur Fery Iswandy, serta perwakilan kedutaan besar negara sahabat untuk Malaysia.
Delegasi PWI Pusat yang hadir meliputi Akhmad Munir (Ketua Umum), Atal S. Depari (Ketua Dewan Kehormatan), Ahmed Kurnia Soeriawidjaja (Direktur CAJ), Yono Hartono (Wakil Direktur CAJ), Agus Sudibyo (Ketua Bidang Pendidikan), Irfan Junaidi (Ketua Bidang Luar Negeri), Sumber Rajasa Ginting (Wakil Bendahara Umum I), Herlina (Wakil Bendahara Umum II), Novrizon Burman (Wakil Ketua Bidang Pembinaan Daerah), Kadirah (Wakil Ketua Bidang Kerjasama dan Kemitraan), Musrifah (Wakil Ketua Departemen Hankam Khusus POLRI), Mercys Charles Loho (Wakil Direktur Anti Hoax), serta Theodorus Dar Edi Yoga (Bendahara CAJ).
