Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengimbau para guru di wilayahnya untuk tidak lagi memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari penerapan uji coba lima hari sekolah yang telah dimulai di puluhan sekolah tingkat SD dan SMP se-Kota Mataram.
“Setelah penerapan lima hari sekolah, kami imbau guru tidak lagi memberikan PR ke peserta didik,” kata Mohan kepada wartawan di Mataram, Sabtu (17/1/2026).
Mohan menjelaskan, peniadaan PR bertujuan agar anak-anak memiliki waktu istirahat yang cukup setelah belajar dan beraktivitas di sekolah selama lima hari. Waktu pulang sekolah dan libur akhir pekan diharapkan dapat dimanfaatkan siswa untuk istirahat serta berkegiatan fisik di luar ruangan.
“Kami berharap para guru bisa menuntaskan pelajaran saat jam belajar, agar tidak ada PR bagi anak-anak,” ujarnya.
Menindaklanjuti imbauan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram Yusuf menyatakan pihaknya akan segera menyampaikan arahan ini kepada para guru melalui Forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S).
“Tujuannya, supaya apa yang menjadi imbauan tersebut bisa diindahkan oleh semua guru,” tutur Yusuf.
Yusuf menambahkan, kebijakan peniadaan PR juga dimaksudkan agar tidak membebani siswa setelah sampai di rumah. “Jadi anak-anak bisa lega bermain dan istirahat di rumah,” katanya.
Selama ini, menurut Yusuf, pemberian PR oleh guru dilakukan ketika tugas atau materi pelajaran tidak selesai di sekolah. Hal tersebut bertujuan agar siswa lebih paham dan tidak ketinggalan pelajaran.
“Tidak ada tujuan lain, semua untuk kebaikan siswa,” tegas Yusuf.
Namun, seiring dengan program lima hari sekolah yang secara otomatis menambah jam belajar siswa, para guru diharapkan dapat menuntaskan materi dan tugas di sekolah. Dengan demikian, beban PR yang harus diselesaikan di luar jam sekolah dapat dihindari.
Meskipun demikian, Yusuf menekankan peran orang tua tetap penting. Orang tua diharapkan mendampingi anak-anak di rumah dengan mengarahkan pada kegiatan-kegiatan positif.
“Termasuk jika anak mau belajar di rumah, orang tua harus tetap mendampingi,” pungkasnya.
