Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengajak seluruh warga untuk lebih bijak dalam mengelola sampah, khususnya di momen perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Ajakan ini disampaikan usai Salat Id di Plaza Balai Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026, mengingat persoalan sampah yang kian serius di Kota Kembang.
Farhan menyoroti volume sampah harian di Kota Bandung yang mencapai 1.600 hingga 1.800 ton. Angka ini merupakan konsekuensi langsung dari aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang dinamis. “Sampah adalah residu dari kehidupan kita. Maka, pengelolaannya menjadi tanggung jawab bersama. Persoalan sampah di Kota Bandung telah menjadi perhatian pemerintah pusat, sehingga diperlukan langkah serius dan berkelanjutan,” tegas Farhan.
Menurutnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung telah mengembangkan berbagai program berbasis partisipasi masyarakat, mulai dari tingkat kewilayahan hingga penguatan petugas kebersihan. Namun, solusi utama tetap terletak pada perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam hal memilah dan mendaur ulang sampah dari sumbernya.
“Kebersihan adalah bagian dari iman. Maka mari kita mulai dari hal sederhana, seperti memilah sampah dari rumah. Saya berharap, momentum Idulfitri dapat menjadi titik awal perubahan budaya menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Dengan kebersamaan dan kesadaran kolektif, kita optimistis Kota Bandung mampu mengatasi persoalan ini,” papar Farhan penuh harap.
Untuk mengatasi persoalan ini, Farhan menyebut Pemkot Bandung tengah mengintegrasikan program Gorong-gorong Bersih (Gober) dengan Program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah). Integrasi ini menjadi krusial, terutama setelah lonjakan produksi sampah selama bulan Ramadan yang tercatat meningkat hingga 20 persen.
“Kondisi ini tidak bisa dianggap biasa, mengingat kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang semakin terbebani. Sebagai solusi jangka menengah, Pemkot tengah mengembangkan integrasi program Gaslah dengan program Gober,” jelasnya.
Dari kolaborasi ini, akan lahir konsep baru bernama “Gaslah Sungai,” yang secara khusus menyasar sampah plastik di sungai dan perairan kota. “Gaslah fokus pada sampah organik, tapi nanti kita gabungkan dengan Gober dan disiapkan konsep baru, Gaslah Sungai, fokus ke sampah plastik di aliran sungai. Program ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menekan pencemaran lingkungan sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah terpadu di Kota Bandung,” ungkap Farhan.
Di tengah lonjakan volume sampah, Pemkot Bandung juga menerapkan langkah taktis dengan mempercepat ritme pengangkutan. “Selama tiga hari krusial, pengangkutan sampah dilakukan setiap tiga jam sekali untuk mengantisipasi penumpukan di jalan-jalan. Namun, proses ini tetap menghadapi tantangan, terutama keterbatasan kapasitas TPS dan pengaturan distribusi ke TPA Sarimukti yang masih bergantung pada kuota pembuangan,” sambungnya.
