Wakil Menteri Komunikasi Malaysia Teo Nie Ching menyatakan keprihatinannya atas semakin cepatnya penyebaran informasi palsu atau hoaks, terutama dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Pernyataan ini disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan Forum Media Hari Wartawan Nasional (Hawana) 2026 di Kuala Lumpur, Kamis (7/5/2026).
Teo Nie Ching menyoroti bagaimana hoaks dapat dengan cepat membentuk persepsi publik. “Sebagai Wakil Menteri Komunikasi, saya sangat prihatin melihat betapa cepatnya informasi palsu dapat membentuk persepsi publik saat ini. Berita, baik benar maupun salah, dapat menyebar dalam hitungan detik dan mempengaruhi cara masyarakat berpikir, bereaksi, serta mengambil keputusan,” ujar Teo.
Ia memaparkan beberapa data yang mengkhawatirkan di Malaysia. Dalam rentang waktu 29 Maret hingga 30 April 2026, sebanyak 464 konten palsu terkait krisis pasokan global berhasil teridentifikasi. Dari jumlah tersebut, 312 konten atau 67 persen berhasil diturunkan, sementara 65 laporan investigasi dibuka. Sebanyak 15 kasus telah dirujuk kepada Kejaksaan Agung, dan sisanya masih dalam tahap penyelidikan.
Pada saat yang sama, Teo menekankan bahwa kecerdasan buatan (AI) turut mempercepat penyebaran misinformasi. Teknologi deepfake menjadi semakin meyakinkan, sementara para penipu memanfaatkan AI untuk menciptakan modus yang lebih canggih dan sulit dideteksi. Menurutnya, hal ini bukan lagi isu lokal, melainkan tantangan global yang terus berkembang, dengan berbagai kasus manipulasi suara dan wajah untuk menipu korban.
Skala konten penipuan, termasuk akun palsu dan penyamaran tokoh publik, juga mengalami peningkatan tajam. Berdasarkan data, kasus penipuan berbasis digital di Malaysia tercatat sebanyak 6.297 pada tahun 2023. Angka ini melonjak drastis menjadi 63.652 pada tahun 2024, dan terus meningkat hingga 98.503 pada tahun 2025. Sementara itu, dari Januari hingga 30 April 2026, sebanyak 60.829 konten serupa telah berhasil diturunkan oleh berbagai platform digital.
Di tengah berbagai tantangan ini, Teo menegaskan bahwa jurnalisme tetap menjadi pilar demokrasi. “Di tengah berbagai tantangan ini, satu prinsip tetap tidak berubah: jurnalisme adalah pilar demokrasi dan sumber terpercaya bagi informasi yang telah diverifikasi,” kata Teo. Ia menilai, di era misinformasi, kredibilitas tidak lagi bisa diasumsikan, melainkan harus diraih secara konsisten dan transparan. Oleh sebab itu, integritas dalam media bukan sekadar idealisme, melainkan sebuah kebutuhan.
Teo menyadari bahwa mengendalikan penyebaran misinformasi dan disinformasi bukanlah tugas yang mudah. “Saya menyadari bahwa mengendalikan penyebaran misinformasi dan disinformasi bukanlah tugas yang mudah. Karena itu, literasi digital di kalangan rakyat menjadi semakin penting. Kita harus memberdayakan masyarakat agar berpikir kritis, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan memahami dampak nyata dari kata-kata di ruang digital,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa masalah informasi palsu tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan teknologi. Diperlukan rasa tanggung jawab bersama dari semua pihak untuk membangun lingkungan daring yang lebih aman dan saling menghormati.
Lebih jauh, ia menyatakan bahwa di tengah kemajuan teknologi, media konvensional tetap relevan sebagai sumber informasi yang terverifikasi. Jurnalisme memiliki kekuatan sejati pada sentuhan manusia, yang belum dapat digantikan oleh mesin atau kecerdasan buatan. Teo menambahkan, “Di tengah kemajuan teknologi, kita tidak boleh melupakan bahwa kekuatan sejati jurnalisme terletak pada sentuhan manusianya. Nilai-nilai seperti empati, etika, dan tanggung jawab tidak dapat digantikan oleh mesin.” Ia menekankan bahwa jurnalisme harus tetap berpusat pada manusia. Meskipun AI menawarkan berbagai alat yang kuat untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi, teknologi tersebut seharusnya mendukung, bukan menggantikan, penilaian manusia, integritas, dan akuntabilitas.
CEO BERNAMA Nurul Afida Kamaludin menjelaskan bahwa Forum Media Hawana 2026 diselenggarakan sebagai rangkaian menuju Puncak Peringatan Hari Wartawan Nasional Malaysia 2026. Acara puncak tersebut akan dilaksanakan pada 20 Juni 2026 di Pulau Penang, Malaysia. Pertemuan ini mempertemukan praktisi media profesional dan senior dari Malaysia serta berbagai negara, juga dihadiri oleh para akademisi dan pelajar yang akan menjadi generasi wartawan berikutnya.
