Warga Desa Sedenganmijen, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, antusias berebut gunungan tempe raksasa setinggi 10 meter pada Minggu (1/2/2026). Tradisi tahunan ini digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi wujud syukur atas hasil panen melimpah dan mempererat kebersamaan.
Arak-arakan Gunungan Penuh Hasil Bumi
Puluhan tumpeng yang diarak keliling desa merupakan persembahan dari masing-masing RT di wilayah Desa Sedenganmijen. Arak-arakan ini berakhir di Kantor Desa Sedenganmijen, tempat ratusan warga telah menanti.
Tumpeng-tumpeng tersebut dihiasi dengan beragam hasil bumi unggulan desa, seperti sayuran, polo pendem, dan ikan asap. Seluruh hasil bumi ini menjadi simbol ungkapan rasa syukur warga atas rezeki dan hasil panen yang melimpah sepanjang tahun.
Gunungan Tempe Raksasa dari Ratusan Kilogram Kedelai
Selain tumpeng-tumpeng kecil, daya tarik utama adalah gunungan tempe raksasa setinggi 10 meter. Gunungan istimewa ini dibuat oleh para perajin tempe desa setempat, yang menghabiskan tiga ratus kilogram kedelai.
Ratusan warga terlihat memadati halaman kantor Desa Sedenganmijen, bersiap untuk berebut aneka hasil bumi dan tempe. Masyarakat setempat mempercayai bahwa kegiatan ruwat dengan berebut tumpeng tersebut akan membawa berkah bagi desa dan warganya.
Harapan Kemajuan dan Kesejahteraan
Salah satu warga, Satun, mengungkapkan harapannya terhadap tradisi ini. “Semoga Desa Sedenganmijen lebih maju lagi, dan tahun depan lebih banyak lagi tumpengnya,” ujarnya.
Kepala Desa Sedenganmijen, Muhammad Hasanuddin, menegaskan bahwa kegiatan ini rutin dilakukan menjelang bulan suci Ramadan. Ia menambahkan, tradisi ruwat desa ini juga menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan warga sekaligus melestarikan budaya leluhur.
“Harapannya, desa senantiasa diberi keselamatan, hasil bumi yang melimpah, serta perekonomian warga yang semakin sejahtera,” kata Hasanuddin, menutup acara.
