Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul memastikan seluruh satuan TNI AL di berbagai daerah telah melaksanakan program penanaman kedelai secara serentak. Langkah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan wilayah, sejalan dengan program pemerintah pusat.

“Program ini digerakkan melalui Satuan Komando Kewilayahan (Satkowil) TNI AL di daerah, seperti Kodaeral, Pangkalan TNI AL (Lanal), serta satuan-satuan Korps Marinir, di bawah koordinasi dari Pusat Teritorial Angkatan Laut (Pusteral),” ujar Tunggul kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Dukungan Ketahanan Pangan Nasional

Tunggul menjelaskan, satuan-satuan TNI AL di daerah aktif mencari lahan tidur yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman kedelai. Dalam proses pengelolaan lahan, TNI AL tidak hanya mengerahkan personelnya, tetapi juga merangkul warga sekitar untuk berpartisipasi. Hal ini bertujuan agar masyarakat teredukasi dalam bidang cocok tanam kedelai, sehingga ke depan mereka dapat mengembangkan perkebunan sendiri.

“Personel TNI AL khususnya Babinpotmar bertindak sebagai dinamisator, pendamping, dan penyedia fasilitas, sementara pengerjaan di lapangan dilakukan bersama-sama dengan warga agar hasilnya dapat langsung membantu perekonomian masyarakat setempat,” kata Tunggul.

Sebagai contoh, di KPH Banyuwangi Selatan, Kalipait, Banyuwangi, Jawa Timur, pada Rabu (29/10/2025), prajurit TNI AL bersama petani telah mengecek hasil panen kedelai. Lanal Banyuwangi mengembangkan bibit kedelai varietas Garuda Merah Putih di lahan seluas satu hektar yang akan dijadikan sumber benih untuk perluasan penanaman di lahan seluas 60 hektar.

Hasil Panen dan Edukasi Masyarakat

Hasil pengelolaan lahan kedelai oleh TNI AL dinilai cukup memuaskan. Tunggul menyebutkan, di beberapa daerah pihaknya berhasil memanen dua hingga empat ton kedelai per hektare.

“Sebagai gambaran di beberapa lahan TNI AL seperti Lampung yang Panen pada Oktober 2025 dengan luas lahan 30 hektare, mampu menghasilkan panen kedelai 4 ton per hektare,” ungkap Tunggul. Ia menambahkan, “Sedangkan pekan lalu di Nganjuk Jawa Timur dengan luas lahan 400 hektare, estimasi hasil panen 1,5 hingga 2 ton per hektare.”

Hingga saat ini, aktivitas penanaman kedelai oleh prajurit TNI AL dan warga masih terus dilakukan di berbagai daerah. Tunggul optimistis program ini akan semakin memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian wilayah.

Tugas Khusus dari Kementerian Pertahanan

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberikan tugas khusus kepada TNI AD dan TNI AL dalam menggerakkan program ketahanan pangan.

“Kami sudah melakukan pembagian tugas, bahwa untuk Angkatan Darat tugasnya adalah pertanian, jagung, dan padi, selain palawija. Angkatan Laut adalah kedelai,” kata Sjafrie saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi I DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5).

Menurut Sjafrie, TNI AL diberi tugas menanam kedelai karena Indonesia selama ini sangat bergantung pada impor kedelai sebanyak dua juta ton untuk memenuhi kebutuhan nasional. Ia juga menerima informasi bahwa kedelai impor tersebut seringkali merupakan bahan dasar untuk makanan ternak.

“Jadi, bisa dibayangkan, kita impor kedelai itu makanan ternaknya orang di luar. Sekarang, Angkatan Laut dengan dua kali panen, dia sudah mempunyai kualitas bibit kedelai, yang tidak lagi istilah makanan ternak itu,” tegas Sjafrie dalam rapat tersebut.