Ribuan warga memadati kawasan Pecinan Kota Semarang pada Jumat (14/2) malam, menyambut dibukanya Pasar Imlek Semawis 2026. Suasana meriah dengan dentuman musik dan atraksi Barongsai (Leong) mengiringi keramaian di sepanjang Gang Gambiran, tempat ratusan stan UMKM menjajakan aneka kuliner dan pernak-pernik Imlek.
Pembukaan Pasar Imlek Semawis ini turut dihadiri oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Ia mengungkapkan kegembiraannya melihat antusiasme masyarakat yang memadati ruas jalan dan Gang Gambiran.
“Malam ini Kota Semarang benar-benar meriah,” ujar Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti, menyoroti padatnya pengunjung yang memadati kawasan bersejarah tersebut.
Kemeriahan ini, menurut Agustina, disebabkan oleh dua agenda besar yang berlangsung bersamaan: Pasar Imlek Semawis di Komplek Pecinan dan Dugderan yang digelar di sebelahnya. Fenomena ini menjadi bukti kuatnya toleransi dan akulturasi budaya di Kota Semarang, menciptakan harmoni yang luar biasa.
Suasana damai dan toleransi di Semarang semakin tercermin dari berbagai perayaan keagamaan yang berlangsung beriringan. Umat Tionghoa merayakan Imlek, umat Muslim bersiap menyambut Ramadan, sementara umat Kristiani memasuki masa Prapaskah.
“Saudara-saudara Tionghoa merayakan Imlek, saudara Muslim menyambut Ramadan, umat Kristiani memasuki masa prapaskah. Katolik dan Muslim puasa bareng, inilah Kota Semarang yang damai dan toleran,” tambah Agustina.
Selain keramaian pasar, ratusan orang juga menjadi pusat perhatian dengan tradisi Tuk Panjang atau meja panjang, yang digelar tepat di depan panggung utama. Ketua Komunitas Pecinan untuk Pariwisata (KOPI) Semawis, Harjanto Halim, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Imlek telah dimulai beberapa hari sebelumnya, puncaknya pada malam ini dengan tradisi Tuk Panjang bersamaan dibukanya Pasar Imlek Semawis di kompleks Pecinan Semarang.
Konsep Tuk Panjang, yang secara tradisional digelar di dalam rumah sebagai momen berkumpul keluarga sebelum Imlek, kini dikembangkan menjadi perjamuan terbuka di ruang publik Semarang. Harjanto Halim menyebut, hidangan yang disajikan dalam perjamuan ini menghadirkan enam menu khas Muslim Tionghoa dari Xinjiang, Tiongkok, dengan mendatangkan langsung koki dari Xinjiang.
“Tradisi ini menjadi simbol eratnya kekerabatan dan kekeluargaan,” pungkas Harjanto Halim.
