Kuala Lumpur – Ribuan pekerja di Malaysia menggelar aksi peringatan Hari Pekerja atau May Day pada Jumat, 1 Mei 2026. Aksi yang diinisiasi oleh berbagai aliansi masyarakat sipil, aktivis, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok politik ini menyuarakan beragam isu, mulai dari ketenagakerjaan hingga penolakan terhadap peperangan.
Tuntutan Pekerja di Dataran Merdeka
Pantauan ANTARA di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, menunjukkan para peserta aksi mengangkat isu-isu krusial seperti tuntutan kenaikan gaji dan penolakan terhadap privatisasi yang dinilai menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai komoditas. Selain itu, isu penolakan terhadap perang di Timur Tengah juga menjadi sorotan utama, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap sektor pekerja.
Para demonstran juga menyuarakan penolakan terhadap praktik rasuah yang merugikan rakyat, menentang perusakan lingkungan, serta memperjuangkan hak pendidikan bagi anak-anak tanpa status kewarganegaraan. Hak-hak pekerja wanita, seperti cuti menstruasi, turut menjadi bagian dari tuntutan yang disuarakan.
Setidaknya dua titik peringatan Hari Pekerja berlangsung di Kuala Lumpur pada hari yang sama. Selain aksi kolektif di Dataran Merdeka, pemerintah Malaysia juga menginisiasi peringatan Hari Pekerja di Stadion Bukit Jalil.
Komitmen Pemerintah untuk Kesejahteraan Pekerja
Dalam sambutannya pada acara yang diselenggarakan pemerintah di Stadion Bukit Jalil, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan peran penting kalangan pekerja dalam membentuk arah masa depan negara. Anwar menyebut pekerja sebagai “tonggak utama yang mendorong kemajuan ekonomi negara dengan menggerakkan sektor industri dan jasa, memperkuat produktivitas, menarik investasi berkualitas, serta memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat regional dan global.”
Anwar juga memastikan komitmen pemerintah untuk menjaga dan memperkuat kesejahteraan pekerja. “Pemerintah akan terus memastikan kesejahteraan pekerja terjaga dan diperkuat secara menyeluruh, termasuk pengumuman hari ini yang mencakup perlindungan pekerja lintas negara, dukungan pascapersalinan, perluasan pelatihan keterampilan, bantuan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan, serta penguatan jaminan sosial, khususnya bagi pekerja kontrak,” seru Anwar.
Peringatan Hari Pekerja di Malaysia tahun ini menyoroti kompleksitas isu yang dihadapi para pekerja, sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam merespons tuntutan tersebut.
