Dinas Perhubungan Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkirakan puncak arus balik Lebaran di wilayahnya akan terjadi pada H+7 Lebaran, bertepatan dengan berakhirnya masa libur anak sekolah. Prediksi ini menyoroti periode 24 hingga 29 Maret 2026 sebagai titik tertinggi pergerakan penumpang.

Dua Gelombang Puncak Arus Balik

Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan (Dishub) NTB, Khaerus Sobri, menjelaskan bahwa berdasarkan data pergerakan penumpang tahun 2026, puncak arus balik di NTB diperkirakan terjadi antara H+5 hingga H+7 Lebaran. “Untuk Pelabuhan Poto Tano-Kayangan, terjadi 2 gelombang puncak arus balik yaitu 24 Maret untuk pegawai pemerintah dan swasta dan tanggal 29 untuk pelajar dan mahasiswa. Untuk Bandara Lombok puncak diprediksi pada 29 Maret 2026,” ujarnya di Mataram, Rabu.

Fokus pengamanan dan pelayanan arus balik ini mencakup seluruh simpul transportasi utama, seperti Pelabuhan Kayangan, Pelabuhan Pototano, Pelabuhan Lembar, Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, serta terminal-terminal antar kabupaten/kota.

Kesiapan Armada dan Strategi Penanganan

Untuk penyeberangan lintas Kayangan-Poto Tano, Dishub NTB bersama pihak terkait telah menyiapkan 24 kapal, dengan 10 unit armada aktif dan sisanya sebagai cadangan. Selain itu, posko terpadu beroperasi 24 jam, pemeriksaan kelayakan armada darat, laut, dan udara dilakukan secara intensif, serta koordinasi erat antara pemerintah daerah, kepolisian, ASDP, dan operator transportasi diperkuat. Penambahan personel pengamanan dan petugas lapangan juga menjadi prioritas.

Dalam upaya meminimalisir kemacetan, terutama di pelabuhan, Sobri menyatakan bahwa sistem antrean digital atau tiket online melalui Ferizy diterapkan. Selain itu, buffer zone kendaraan sebelum masuk pelabuhan, rekayasa lalu lintas menuju pelabuhan, pengaturan jam keberangkatan bertahap, dan prioritas kendaraan penumpang dibandingkan kendaraan logistik saat puncak kepadatan juga diberlakukan.

“Pada jalur darat, pengamanan difokuskan di koridor Mataram-Lombok Timur, Lombok Tengah-Bandara akses menuju kawasan wisata utama. Jika volume meningkat tajam, akan diterapkan pola buka-tutup arus kendaraan di sekitar pelabuhan dan simpul padat,” ucapnya.

Tantangan Lebaran Ketupat dan Pariwisata

Sobri menambahkan, potensi bergesekannya puncak arus balik dengan puncak pariwisata, khususnya tradisi Lebaran Ketupat (Topat), menjadi perhatian serius. NTB sebagai daerah tujuan wisata utama, terutama kawasan Mandalika, Gili Trawangan, dan Senggigi, diproyeksikan menerima mobilitas tinggi tahun ini.

“Jika arus balik berbarengan dengan lonjakan wisatawan apalagi berbarengan dengan lebaran topat, strategi yang dilakukan pemisahan jalur kendaraan wisata dan kendaraan mudik, penguatan informasi lalu lintas real-time, penambahan personel di titik wisata dan pelabuhan, koordinasi hotel, travel, dan operator transportasi,” jelas Sobri. Ia menekankan, “pengelolaan simpul wisata menjadi kunci agar tidak terjadi penumpukan.”

Sementara itu, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Kayangan, Erlisetya Wahyudi, mengonfirmasi kesiapan 24 armada kapal di Pelabuhan Kayangan, Kabupaten Lombok Timur. “Setiap hari ada 10 kapal yang beroperasi melayani penyeberangan, sementara 14 kapal lainnya dalam posisi siaga untuk dioperasikan apabila terjadi peningkatan trafik penumpang maupun kendaraan,” katanya.