PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) memperkuat komitmennya dalam upaya penanganan diabetes di Indonesia melalui kolaborasi strategis di Kendari, Sulawesi Tenggara. Inisiatif ini merupakan bagian dari rangkaian acara Semarak Dirgantara 2026 yang berlangsung pada 22-27 April 2026, bertujuan untuk mengurangi beban sistem kesehatan nasional dengan meningkatkan kualitas hidup para penyandang diabetes.

Dalam Semarak Dirgantara 2026, Kalbe menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk TNI Angkatan Udara (AU), Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, RSUD Bahteramas Kendari, Puskesmas Poasia Wundumbatu, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Kolaborasi ini dirancang untuk menciptakan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan dalam penanganan diabetes di Kendari.

Kalbe Diabetes Total Solution (DTS)

Dukungan nyata Kalbe diwujudkan melalui Kalbe Diabetes Total Solution (DTS), sebuah pendekatan ekosistem kesehatan yang terintegrasi. DTS mencakup lima aspek utama:

  • Pencegahan: Edukasi gaya hidup sehat untuk masyarakat umum.
  • Deteksi Dini: Skrining untuk mengidentifikasi risiko diabetes sejak awal.
  • Terapi: Penyediaan obat-obatan dan perawatan medis yang berkualitas.
  • Nutrisi: Mengonsumsi produk nutrisi khusus seperti Diabetasol untuk membantu menjaga kadar gula darah.
  • Edukasi Berkelanjutan: Pendampingan bagi pasien agar dapat mengelola kondisinya secara mandiri.

Medical Executive PT Kalbe Farma Tbk, dr. Riesta Hanjani, menjelaskan bahwa timnya telah memberikan edukasi kepada masyarakat yang akan menjalani skrining operasi katarak mata gratis di RSUD Bahteramas, Kendari, pada Kamis, 23 April 2026. Ia menyoroti minimnya literasi tentang diabetes di kalangan peserta.

“Masih banyak yang tidak pernah cek gula darah. Ada juga yang sudah periksa, tapi tidak berobat. Mereka kurang edukasi. Mereka bingung, tidak tahu kalau gula darah tinggi jadi faktor tidak bisa operasi katarak. Harus dilakukan edukasi, menjalani pengobatan, kontrol makanan,” ujar dr Riesta.

Untuk membantu mengendalikan gula darah, dr. Riesta merekomendasikan konsumsi susu Diabetasol yang dapat diminum dua kali sehari setelah makan. SHE Sustainability Specialist Kalbe Nutritionals, Isa Dwiyono, menambahkan bahwa Kalbe juga memberikan bantuan susu Diabetasol untuk menjaga kadar gula darah dan Morinaga Chilgo untuk anak usia di atas 1 tahun.

Sejalan dengan Undang-Undang Kesehatan

Langkah Kalbe ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian penyakit tidak menular (PTM). SFD Arie Wibowo, Assistant Manager Corporate Sustainability Kalbe, menegaskan harapan perusahaan.

“Melalui ekosistem DTS, Kalbe berharap dapat membantu mengurangi beban sistem kesehatan nasional dengan meningkatkan kualitas hidup para penyandang diabetes (diabetesi) di Indonesia,” kata SFD Arie Wibowo.

Abi Nisaka, Head of Corporate Sustainability Kalbe, menambahkan bahwa inisiatif ini merupakan perwujudan dari komitmen keberlanjutan perusahaan, yaitu Bersama Sehatkan Bangsa.

“Dengan memperluas akses kesehatan dan edukasi, Kalbe berupaya menciptakan dampak positif yang nyata bagi masyarakat luas demi mencapai Indonesia yang lebih sehat,” jelas Abi Nisaka.

Data Prevalensi Diabetes di Indonesia

Berdasarkan data kesehatan terbaru yang dirilis pada 2026, merujuk pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 atau studi berbasis data Riskesdas terbaru, prevalensi diabetes di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Berikut adalah poin-poin kunci data prevalensi diabetes di Indonesia per tahun 2026:

  1. Prevalensi Diabetes (Usia >15 Tahun): Prevalensi diabetes melitus di Indonesia telah meningkat menjadi 11,7% pada data tahun 2023-2024, naik dari 10,9% pada Riskesdas 2018.
  2. Jumlah Penderita: Lebih dari 20 juta orang dewasa di Indonesia diperkirakan hidup dengan diabetes pada 2024–2026.
  3. Urutan Global: Indonesia menempati peringkat ke-5 dunia dalam jumlah penderita diabetes terbanyak, dengan proyeksi mencapai 28,6 juta orang pada tahun 2045 jika tidak ada intervensi efektif.
  4. Faktor Risiko: Prevalensi diabetes lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan pedesaan, sering kali terkait dengan obesitas sentral dan gaya hidup kurang aktif.
  5. Deteksi Dini: Studi menyoroti bahwa lebih dari 50% penderita diabetes tipe 2 di Indonesia tidak terdiagnosis. Mereka tidak menyadari telah mengidap diabetes.
  6. Tren Usia Muda: Kasus diabetes tidak lagi hanya menyerang lansia, tetapi mulai meningkat pada usia yang lebih muda, bahkan anak-anak, dengan risiko komplikasi PTM.