Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa tujuan strategis inti operasi militer AS di Iran “hampir selesai”. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam pidatonya mengenai Operasi Epic Fury pada Rabu (1/4).
Dalam empat pekan terakhir, militer AS diklaim telah meraih “kemenangan yang cepat, menentukan, dan luar biasa”. Trump menegaskan bahwa operasi akan terus berlanjut hingga semua tujuan tercapai, dan saat ini, AS berada di jalur untuk segera menyelesaikan seluruh target militer.
Ancaman Keras dan Eskalasi Konflik
Trump tidak segan melontarkan ancaman keras terhadap Iran. “Kami akan menyerang mereka sangat keras dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Kami akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada,” kata Trump.
Ketegangan di kawasan Teluk telah meningkat tajam sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan tersebut mengakibatkan tewasnya lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Iran membalas serangan tersebut dengan meluncurkan drone dan rudal ke Israel serta beberapa negara Teluk yang menampung aset militer AS. Sejak Operasi Epic Fury dimulai, sebanyak 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan sekitar 303 lainnya terluka.
Penghormatan Korban dan Pembicaraan Berlangsung
Trump juga mengenang 13 personel AS yang “mengorbankan nyawa mereka dalam pertempuran ini.” Ia menekankan pentingnya menyelesaikan misi tersebut sebagai bentuk penghormatan. “Kini kita harus menghormati mereka dengan menyelesaikan misi tersebut,” ujarnya.
Meskipun demikian, Trump menyebutkan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Namun, ia memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, AS tidak akan ragu untuk menyerang seluruh pembangkit listrik Iran.
“Kami belum menyerang ladang minyak mereka, meski itu target paling mudah, karena itu tak memberi mereka peluang untuk bertahan. Namun, kami bisa menyerangnya dan itu akan hilang,” jelas Trump.
Selat Hormuz dan Kondisi Iran
Presiden AS itu juga menyatakan bahwa AS hampir tidak lagi mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan melakukannya di masa depan. Ia menyebut Iran telah “hancur secara militer dan ekonomi” akibat konflik tersebut.
Trump mendesak negara-negara lain untuk turut menjaga jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Ia bahkan menyarankan negara-negara yang menghadapi kesulitan energi untuk membeli minyak dari AS atau “mengumpulkan keberanian” dan “merebut” Selat Hormuz.
“Bagian tersulit telah selesai. Ketika konflik berakhir, selat itu akan terbuka dengan sendirinya,” pungkas Trump.
