Wacana mengenai potensi kesepakatan dagang antara Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden dan di bawah Presiden pada tahun 2026 mendatang mulai memicu kekhawatiran di kalangan pengamat ekonomi. Spekulasi ini muncul seiring dengan rekam jejak kebijakan perdagangan kedua pemimpin yang berpotensi menciptakan dinamika yang tidak seimbang bagi Indonesia.

Kebijakan Dagang Trump dan Dampaknya

Donald Trump, jika terpilih kembali sebagai Presiden AS, dikenal dengan pendekatan proteksionisnya yang mengedepankan slogan “America First”. Kebijakan ini kerap diwujudkan melalui pengenaan tarif impor yang tinggi terhadap produk-produk dari negara mitra dagang, dengan tujuan melindungi industri domestik dan mengurangi defisit perdagangan. Pada masa kepemimpinan sebelumnya, Trump telah menerapkan tarif signifikan pada baja, aluminium, dan berbagai barang dari Tiongkok, yang memicu perang dagang global.

Pendekatan ini menimbulkan pertanyaan besar bagi Indonesia. Meskipun pemerintahan Prabowo Subianto diproyeksikan akan berupaya menarik investasi asing dan memperluas akses pasar bagi produk-produk Indonesia, potensi pengenaan tarif oleh AS dapat menjadi batu sandungan serius. “Jika Indonesia memberikan insentif atau ‘karpet merah’ untuk menarik investasi atau memfasilitasi perdagangan, namun AS tetap menerapkan tarif, ini jelas akan merugikan daya saing ekspor kita,” ujar seorang ekonom perdagangan yang enggan disebut namanya, Rabu (18/2/2026).

Dilema “Karpet Merah” dan Ancaman Tarif

Konsep “karpet merah” yang dimaksud mengacu pada kemungkinan Indonesia menawarkan berbagai kemudahan, seperti relaksasi regulasi, insentif pajak, atau akses pasar yang lebih luas bagi produk dan investasi AS. Harapannya, langkah ini akan memperkuat hubungan ekonomi bilateral dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, jika AS di bawah Trump tetap bersikukuh dengan kebijakan tarifnya, terutama pada komoditas ekspor unggulan Indonesia seperti produk tekstil, alas kaki, karet, atau elektronik, maka upaya Indonesia untuk menarik investasi dan meningkatkan ekspor bisa menjadi sia-sia. Pengenaan tarif akan membuat produk Indonesia lebih mahal di pasar AS, mengurangi permintaan, dan pada akhirnya menekan volume ekspor.

Implikasi Ekonomi bagi Indonesia

Situasi ini berpotensi menciptakan dilema besar bagi pemerintah Indonesia. Di satu sisi, menjaga hubungan baik dengan AS sebagai salah satu mitra dagang dan investor terbesar adalah prioritas. Di sisi lain, Indonesia harus memastikan bahwa setiap kesepakatan dagang yang terjalin benar-benar menguntungkan kepentingan nasional dan tidak merugikan industri dalam negeri.

Para ahli menyarankan agar pemerintah Indonesia mempersiapkan strategi negosiasi yang kuat, termasuk diversifikasi pasar ekspor dan penguatan daya saing produk domestik. “Pemerintah harus sangat berhati-hati dalam setiap negosiasi. Jangan sampai kita memberikan banyak konsesi, tapi di sisi lain ekspor kita tetap terhambat oleh tarif,” tambah ekonom tersebut. Perkembangan ini akan menjadi salah satu tantangan utama dalam diplomasi ekonomi Indonesia di tahun-tahun mendatang.