Seorang pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin (29), tewas ditembak oleh kelompok bersenjata di Papua Pegunungan pada Kamis (2/7/2026). Insiden tragis ini terjadi setelah pesawat perintis yang dikemudikannya dibakar di Bandara Ipdeheik, Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo.

Tujuh penumpang sipil yang berada di dalam pesawat jenis Pilatus milik PT Associated Mission Aviation (AMA) dengan registrasi PK-RCY dilaporkan selamat. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan sedang memantau perkembangan kasus ini dengan serius.

TPNPB Klaim Bertanggung Jawab

Kelompok bersenjata yang mengaku sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim bertanggung jawab atas penembakan dan pembakaran pesawat tersebut. Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, menegaskan klaim ini dalam siaran persnya.

“Pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo dari Kompi Bakusip bertanggung jawab atas penembakan pilot berkebangsaan Amerika Serikat serta pembakaran satu unit pesawat,” kata Sebby Sambom.

Menurut Sebby, penembakan dilakukan sebagai respons terhadap pelanggaran ultimatum TPNPB yang melarang pesawat sipil memasuki wilayah operasi mereka. Kelompok tersebut menuduh pesawat sipil digunakan untuk mengangkut pasukan dan logistik militer Indonesia ke pedalaman Papua.

Komandan TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Elkius Kobak, juga mengaku memerintahkan penembakan tersebut. “Penembakan terhadap pilot Amerika ini merupakan konsekuensi dari kesalahan pemerintah Indonesia, AS, Belanda, dan PBB,” ujarnya dalam pernyataan terpisah.

TNI Bantah Angkut Militer, Evakuasi Jenazah Berlangsung Dramatis

TNI membantah tuduhan bahwa pesawat tersebut digunakan untuk mengangkut militer. Seluruh penumpang pesawat adalah warga sipil Orang Asli Papua (OAP), terdiri dari tiga perempuan dan empat laki-laki.

Ketujuh penumpang yang selamat diidentifikasi sebagai Eston Sobolim, Kwenang Sobolim, Toni Balingga, Elina Sobolim, Ona Sobolim, Lisenia Balingga, dan Faince Amohoso.

Proses evakuasi jenazah Nicholas F. Goselin sempat terkendala cuaca buruk pada Kamis (2/7). Namun, pada Jumat (3/7) pagi, personel Koops TNI Habema berhasil mengevakuasi jenazah pilot tersebut.

Operasi evakuasi melibatkan 10 personel dengan dukungan dua helikopter Caracal, menghadapi medan pegunungan yang sulit. Wakil Panglima Koops TNI Habema, Brigjen Riyanto, menyampaikan belasungkawa atas insiden ini.

“Prioritas kami adalah menyelamatkan korban, mengamankan lokasi, melindungi masyarakat, serta mendukung proses penegakan hukum terhadap pelaku,” ujar Brigjen Riyanto.

Tuntutan TPNPB dan Perhatian AS

Departemen Luar Negeri AS menyatakan terus berkomunikasi dengan pihak berwenang Indonesia terkait insiden ini. “Tidak ada prioritas yang lebih tinggi daripada keselamatan dan keamanan warga Amerika,” demikian pernyataan tertulis yang diterima BBC News Indonesia pada Jumat (3/7). Pemerintah AS juga terus berkomunikasi dengan keluarga korban.

Di sisi lain, Sebby Sambom mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk membuka negosiasi internasional guna menyelesaikan konflik Papua yang telah berlangsung selama 64 tahun. TPNPB juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memfasilitasi perundingan antara pemerintah Indonesia, TPNPB, dan perwakilan rakyat Papua.

Kelompok tersebut memperingatkan akan terus menargetkan pesawat sipil lain yang diyakini membantu operasi militer di wilayah tersebut.

Bukan Insiden Pertama

Penembakan pilot asing di Papua bukan kali pertama terjadi. Pada Februari 2023, pilot Selandia Baru Philip Mark Mehrtens disandera selama 19 bulan oleh kelompok serupa, sebelum akhirnya dibebaskan pada September 2024.

Kemudian, pada Agustus 2024, TPNPB juga menembak mati pilot helikopter Selandia Baru Glen Malcolm Conning tak lama setelah mendarat di sebuah desa terpencil.

Pesawat PT AMA yang terbakar di Balinggama diketahui merupakan pesawat penginjil yang membawa misi kemanusiaan, melayani rute Wamena-Balinggama-Wamena. Satgas Operasi Damai Cartenz menyebut pesawat itu menjadi satu-satunya sarana transportasi di wilayah tersebut.