Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan negaranya untuk memenuhi standar global demi membuktikan sifat damai program nuklirnya. Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Irak yang ditunjuk, Ali al-Zaidi, pada Selasa, 5 Mei 2026.
Menurut keterangan dari Kepresidenan Iran, Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran telah menunjukkan kesiapan penuh dalam semua negosiasi. Hal ini bertujuan untuk memberikan jaminan dalam kerangka peraturan internasional dan mekanisme pemantauan global.
Namun, Pezeshkian menuding Amerika Serikat (AS) terus menekan Iran dan justru menciptakan kebijakan yang kontradiktif dengan negosiasi yang sedang berlangsung. Ia menyebut Teheran terus mendapat ancaman militer meskipun upaya diplomatik terus diupayakan untuk mengakhiri perseteruan kedua negara.
Dalam pembicaraan dengan Zaidi, Pezeshkian juga menyampaikan bahwa Iran memandang Irak sebagai “saudara”. Ia berharap pemerintah Irak yang baru akan mampu mengatasi tantangan ekonomi dan memperkuat stabilitas di kawasan. Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang atau ketidakstabilan, dan tetap berkomitmen untuk menyelesaikan konflik melalui dialog, termasuk dengan negara-negara di kawasan.
Menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri Irak yang ditunjuk, Ali al-Zaidi, menyatakan bahwa Baghdad siap mendukung upaya untuk mengurangi ketegangan. Irak menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah pembicaraan antara Iran dan AS. Zaidi menekankan bahwa perselisihan antara Teheran dan Washington harus diselesaikan melalui dialog, karena konfrontasi tidak akan memberikan solusi jangka panjang.
Ketegangan di Timur Tengah memang telah meningkat secara signifikan sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan gabungan itu memicu balasan dari Teheran dan menyebabkan gangguan di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang vital.
Gencatan senjata sempat disepakati pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan, namun pembicaraan selanjutnya di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng. Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditetapkan. Sejak 13 April 2026, AS memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz.
Sumber: Anadolu Agency
