Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menyerukan pentingnya nilai toleransi dan menjaga keberagaman saat peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah di Masjid Jami’ Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Didampingi Wakil Gubernur NTB, Hj Indah Dhamayanti Putri, Gubernur Iqbal menyoroti kawasan sekitar Masjid Jami’ Praya sebagai teladan nyata kehidupan harmonis di tengah perbedaan.
Harmoni Muslim-Tionghoa di Peken Laek
Lalu Muhamad Iqbal mengingatkan bahwa kawasan Peken Laek, yang berada di belakang masjid, telah lama menjadi tempat tinggal bagi masyarakat Tionghoa. Keberadaan mereka berdampingan dengan komunitas Muslim menjadi bukti nyata toleransi yang telah terjalin.
“Di belakang masjid ini ada kawasan pecinan, Peken Laek. Teman-teman Tionghoa kita banyak tinggal di sini, bahkan dulu ada sekolah Tionghoa di dekat sini. Masjid ini dikelilingi oleh masyarakat Tionghoa, tetapi kita hidup berdampingan dengan damai,” ujar Gubernur Iqbal dalam keterangan yang diterima pada Sabtu (8/3/2026).
Ia juga mengenang peristiwa kerusuhan tahun 1998 yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Menurutnya, masyarakat Lombok menunjukkan sikap berbeda dengan menjaga keselamatan sesama warga tanpa memandang latar belakang.
“Ketika kerusuhan 1998 terjadi, di kawasan ini tidak ada satu pun orang yang terluka. Inilah bentuk toleransi masyarakat Lombok yang sangat saya banggakan,” kata Iqbal.
Gubernur Iqbal turut berbagi pengalaman pribadinya saat berada di Jakarta pada masa kerusuhan tersebut. Ia segera menghubungi keluarganya di Lombok untuk memastikan keselamatan mereka.
“Saya ingat ketika kerusuhan 1998 di Jakarta, saya sedang berada di sana. Orang pertama yang saya telepon adalah paman saya. Saya minta beliau masuk ke pondok pesantren Al-Muhajirin agar aman. Alhamdulillah, kita patut bersyukur hidup di daerah dengan tingkat toleransi yang sangat tinggi seperti di NTB,” tuturnya.
Seruan Menjaga Lingkungan dan Antisipasi Bencana
Selain pesan toleransi, Gubernur Iqbal juga mengajak masyarakat untuk aktif melakukan gerakan menanam pohon. Ajakan ini disampaikan sebagai upaya menjaga keseimbangan alam dan mencegah bencana banjir yang kian sering terjadi.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya baru saja menyelesaikan kunjungan kerja ke berbagai wilayah di NTB, mulai dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa, termasuk Kota Bima dan Kabupaten Bima. Dari hasil kunjungan tersebut, ia mencermati peningkatan frekuensi bencana dalam dua bulan terakhir.
“Dalam dua bulan terakhir ini hampir semua tempat mengalami bencana, dan yang paling banyak kita hadapi adalah banjir bandang yang dulu tidak pernah ada, sekarang mulai terjadi,” ujarnya prihatin.
Menurut Gubernur, meningkatnya frekuensi bencana tersebut tidak terlepas dari terganggunya keseimbangan alam, salah satunya akibat kerusakan hutan. Penggundulan hutan untuk pembukaan lahan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan menyebabkan tanah mudah terbawa aliran air saat hujan deras, memicu banjir bandang dan merusak infrastruktur.
“Ketika hutan gundul, air tidak lagi terserap dengan baik. Akibatnya, lumpur dan air mengalir deras ke wilayah pemukiman dan merusak berbagai fasilitas,” jelasnya.
Melalui momentum Nuzulul Quran, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dengan menanam pohon serta tidak merusak kawasan hutan.
“Mari kita mulai menanam pohon, pohon apa saja. Pohon keras, pohon buah, apa saja yang bisa kita tanam untuk menjaga keseimbangan alam,” ajaknya.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Provinsi NTB akan menyiapkan ratusan bibit pohon yang dapat diambil masyarakat secara gratis untuk ditanam di lingkungan masing-masing.
“Nanti mulai hari Senin saya siapkan di Kauman beberapa ratus bibit pohon, mulai dari durian, alpukat, kopi, dan lainnya. Silakan masyarakat mengambil dan menanam-nya,” pungkas Lalu Muhamad Iqbal.
