Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama satu tahun menunjukkan dampak positif signifikan terhadap kebiasaan makan anak-anak. Hasil penelitian Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) mengungkap mayoritas orang tua merasakan perbaikan pola konsumsi anak setelah mengikuti program tersebut.

Dampak Positif pada Pola Konsumsi dan Semangat Belajar

Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, menjelaskan bahwa survei yang melibatkan sekitar 1.800 orang tua menemukan 80 persen responden menyatakan anak mereka lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi sejak adanya MBG. “Salah satu temuan dari pertanyaan mendalam kami kepada para orang tua siswa penerima MBG adalah, mereka tahu bahwa orang tualah yang bertanggung jawab memenuhi gizi dan kebutuhan anak mereka. Kehadiran MBG ini justru memberikan rasa tenang kepada keluarga ketika anak-anak mereka di sekolah,” ujar Fajar.

Fajar menambahkan, sebanyak 55% orang tua melaporkan anak mereka tidak lagi pilih-pilih makanan setelah mengikuti program MBG. Dukungan terhadap keberlanjutan program ini juga tinggi, dengan 81 persen orang tua dari keluarga prasejahtera menyatakan dukungan mereka. “Menariknya lagi, ketika anak-anaknya bisa mendapatkan makanan di sekolah, orang tua juga merasa aman. Rasa aman ini timbul karena para orang tua yang kami survei yakin bahwa anak-anaknya mendapatkan makanan bergizi rutin melalui program MBG,” kata Fajar. Ia juga menyoroti bahwa temuan ini memberikan gambaran faktual di lapangan, menepis kritik di media sosial terkait kualitas nutrisi MBG.

Pendapat serupa disampaikan oleh dr. Andi Khomeini Takdir, Sp.PD-KPsi, seorang dokter spesialis penyakit dalam. Ia menilai pemberian makanan bergizi secara rutin berpotensi membentuk pola makan sehat pada anak karena terbiasa dengan variasi menu. “Jadi MBG menurut saya adalah program dengan niat yang bagus. Saya bisa memahami niat dari Presiden Prabowo Subianto dalam menginisiasi MBG ini karena saya pikir idenya sangat bagus,” ujar dr. Andi. Ia juga menekankan bahwa persoalan gizi tidak hanya dialami masyarakat berpenghasilan rendah, melainkan juga dapat terjadi pada kelas ekonomi menengah atau tinggi yang kerap mengonsumsi makanan tidak sehat.

Temuan positif turut dicatat oleh Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) dalam evaluasinya. Sebanyak 66,4 persen murid mengaku lebih bersemangat mengikuti pelajaran setelah adanya MBG. Program ini juga memperoleh skor persepsi 4,30 dalam membantu pemenuhan kebutuhan pangan bergizi, khususnya bagi anak dari kelompok sosial ekonomi rendah.

Kepala SD Negeri 24 Rufei Kota Sorong, Sientje Martentji Ajomi, mengonfirmasi adanya perubahan perilaku siswa di sekolah sejak program berjalan. “Anak-anak lebih aktif bertanya dan lebih ceria sepanjang hari,” ujarnya.

Berdasarkan sejumlah penelitian tersebut, MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga secara signifikan memengaruhi kebiasaan makan dan semangat belajar anak di lingkungan sekolah.