Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian panik (panic buying) menyikapi isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Imbauan ini disampaikan di tengah gejolak konflik yang terjadi di Timur Tengah, yang dikhawatirkan mengganggu pasokan minyak global.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB, Irnadi Kusuma, menegaskan bahwa pemerintah pusat telah menjamin tidak akan ada kenaikan harga BBM. Jaminan ini berlaku meskipun suplai minyak dari Timur Tengah terganggu akibat perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. “Sampai sekarang tidak ada informasi resmi kenaikan BBM. Pemerintah pusat juga sudah menegaskan itu,” ujar Irnadi di Mataram pada Selasa.

Ia berharap masyarakat tidak panik dan tidak mempercayai isu kenaikan harga BBM sebelum adanya keputusan resmi dari pemerintah pusat. “Kita minta masyarakat tidak panik,” tambahnya.

Senada dengan Irnadi, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Samsudin, turut menegaskan agar masyarakat tidak panik membeli BBM. Menurutnya, belum ada keputusan terkait rencana kenaikan harga BBM. “Yang jelas stok BBM kita, insya Allah aman,” ujarnya.

Samsudin menjelaskan, meskipun kondisi Timur Tengah sedang berkonflik, pemerintah pusat melalui Pertamina belum pernah menyatakan akan menaikkan harga BBM. Bahkan, dari informasi yang diterimanya, Pertamina telah menyiapkan sejumlah skenario untuk menyikapi gejolak BBM akibat situasi tersebut.

“Pertamina berencana akan memanfaatkan kilang-kilang di dalam negeri. Kemudian mengambil BBM bukan lagi dari Timur Tengah tapi di lokasi lain apakah itu Afrika maupun Amerika Latin, selanjutnya kita menggencarkan sosialisasi ke masyarakat untuk melakukan langkah penghematan. Salah satunya menerapkan penggunaan energi terbarukan,” kata Samsudin.

Menurut Samsudin, skenario penghematan tersebut merupakan bagian dari upaya kedaulatan energi yang sedang digalakkan pemerintah melalui Kementerian ESDM. “Itu salah satu cara untuk menjaga stok minyak kita tetap aman,” pungkasnya.