Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyatakan tetap siaga penuh menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga akhir Maret 2026. Kesiapsiagaan ini menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait puncak curah hujan dan angin kencang.
Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Akmad Muzaki, pada Kamis (12/2/2026) di Mataram, menjelaskan bahwa wilayah Kota Mataram saat ini memasuki masa peralihan musim yang ditandai dengan cuaca tidak menentu.
“Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak curah hujan dan potensi angin kencang diperkirakan masih akan terjadi hingga akhir Maret,” kata Muzaki. Ia menambahkan, meski intensitasnya tidak selalu sama seperti sebelumnya, cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang tetap harus diwaspadai secara nasional, termasuk di wilayah Kota Mataram dan NTB secara umum.
“Masyarakat Kota Mataram kami diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem,” tegasnya.
Kesiapsiagaan Personel dan Posko Bencana
Untuk memastikan pemantauan kondisi di sejumlah titik rawan bencana, Muzaki menekankan bahwa seluruh personel penanganan bencana diperintahkan untuk tetap dalam posisi siaga darurat. Mereka tidak boleh lengah dalam memantau situasi di lapangan, terutama pada kawasan pesisir pantai yang rawan gelombang pasang, abrasi pantai, dan banjir rob, serta daerah aliran sungai (DAS).
Posko utama bencana masih tetap berlokasi di Kantor BPBD Kota Mataram Jalan Lingkar Selatan. Selain itu, posko di 50 kelurahan se-Kota Mataram dan di pendopo Wali Kota Mataram juga tetap disiagakan.
“Untuk posko di pinggir pantai sudah kami bongkar, dan difokuskan ke kantor lurah setempat untuk koordinasi lebih efektif,” jelas Muzaki mengenai perubahan strategi penempatan posko.
Penanganan Korban Banjir Rob dan Pembangunan Huntara
Menyinggung penanganan warga yang terdampak banjir rob pada akhir Januari 2026, Muzaki menyebutkan bahwa sebanyak 20 kepala keluarga (KK) yang rumahnya rusak berat akibat gelombang pasang saat ini masih mengungsi di rumah keluarga. Mereka menunggu proses pembangunan hunian sementara (huntara) yang sedang berproses.
Pembangunan 20 unit huntara tersebut berlokasi di samping Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Bintaro. “Pembangunan sebanyak 20 unit huntara sudah masuk tahap pengerjaan fondasi, dan ditargetkan rampung dalam waktu kurang dari satu bulan, atau sebelum Idul Fitri 1447 Hijriah,” ungkap Muzaki, memberikan harapan bagi para korban.
