Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah secara resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana hidrometeorologi untuk ketujuh kalinya. Keputusan ini diambil menyusul kondisi delapan desa di wilayah tersebut yang masih terisolasi total akibat kerusakan infrastruktur parah pascabencana banjir dan tanah longsor.

Perpanjangan status tanggap darurat ini berlaku selama tujuh hari, terhitung mulai Jumat, 30 Januari hingga Kamis, 5 Februari 2026. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menegaskan bahwa langkah ini krusial untuk memastikan penanganan pengungsi dan distribusi logistik tetap berjalan optimal.

“Memperpanjang status tanggap darurat bencana di Kabupaten Aceh Tengah, mulai tanggal 30 Januari sampai dengan 5 Februari 2026,” ujar Haili Yoga di Aceh Tengah, Kamis (29/1).

Delapan Desa Masih Terisolasi Total

Haili merinci, delapan desa yang hingga kini belum memiliki akses darat tersebut tersebar di dua kecamatan. Sebanyak lima desa berada di Kecamatan Linge, sementara tiga desa lainnya berlokasi di Kecamatan Ketol. Kondisi di lapangan dilaporkan masih sangat berat, dengan timbunan longsor yang menutup badan jalan serta jembatan yang putus, membuat kendaraan roda empat bahkan sepeda motor sekalipun belum bisa melintas.

Akibatnya, pemerintah daerah terpaksa mengerahkan jalur udara menggunakan helikopter untuk mengirimkan bantuan pokok kepada masyarakat. “Delapan desa masih terisolasi, sehingga kita perpanjang tujuh hari lagi. Masyarakat di sana masih membutuhkan bantuan, dan disalurkan melalui udara menggunakan helikopter,” jelasnya.

Kendala Infrastruktur dan Harapan kepada Pemerintah Pusat

Terkait perbaikan infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mengakui menghadapi kendala teknis yang signifikan, terutama di Kecamatan Ketol. Lebar sungai yang mencapai 300 meter membuat pembangunan jembatan darurat tidak mampu dilakukan secara mandiri dengan anggaran daerah.

“Harapan kita kepada pemerintah provinsi dan pusat, memang ini harus menjadi perhatian serius kita, kaitannya dengan daerah yang terisolir seperti ini,” sambung Haili. Ia menambahkan bahwa saat ini proses perbaikan sudah mulai berjalan berkat dukungan personel TNI dan Polri. Namun, khusus untuk wilayah Linge, meskipun kendaraan roda dua mulai bisa melintas secara terbatas, pasokan kebutuhan masyarakat masih sulit didapatkan karena kondisi jembatan yang masih kritis.

Nasib Pengungsi Menjelang Ramadan

Kondisi sosial warga di dua kecamatan tersebut menunjukkan perbedaan signifikan. Di Kecamatan Ketol, sebagian besar warga telah meninggalkan tenda darurat dan kembali ke rumah masing-masing. Sebaliknya, warga di Kecamatan Linge masih tertahan di pengungsian karena rumah mereka hancur diterjang banjir dan tertimbun material longsor.

Menanggapi hal ini, pemerintah daerah sedang mempercepat pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Upaya ini diprioritaskan agar masyarakat memiliki tempat tinggal yang lebih layak sebelum memasuki bulan suci Ramadan. “Kita harapkan juga masyarakat, hunian sementara (Huntara) sedang berproses, ini sementara daripada rumah masyarakat, apalagi kita mau menghadapi bulan suci Ramadhan,” pungkas Haili.