Pembangunan Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN) telah rampung 100 persen dan siap menyambut pelaksanaan ibadah Ramadan 1447 H/2026 M. Perampungan ini menandai kesiapan masjid untuk menggelar salat tarawih berjamaah perdana, sebuah momen bersejarah di ibu kota baru Indonesia.

Masjid negara ini merupakan salah satu infrastruktur keagamaan pertama di IKN, dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 48.969 meter persegi. Proyeksi ke depan, masjid ini akan menjadi pusat kegiatan ibadah, sosial, serta wisata religi di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara.

Kolaborasi Adhi-HK dan Kapasitas Jamaah

Pembangunan Masjid Negara IKN dikerjakan melalui kerja sama operasi (KSO) antara PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT Hutama Karya (Persero) (Adhi–HK). KSO Adhi–HK bertanggung jawab atas pekerjaan struktur utama, arsitektur, MEP, penataan kawasan, serta koordinasi teknis dan pengendalian mutu konstruksi.

Masjid ini didesain untuk menampung hingga sekitar 60.000 jamaah pada tahap ultimate. Untuk tahap konstruksi saat ini (tahap 1), kapasitas efektif mencapai kurang lebih 29.095 jamaah, yang tersebar di bangunan utama dan area pendukung. Kapasitas ini akan menjadi basis layanan jamaah pada salat tarawih perdana Ramadan 2026.

Fasilitas dan Tata Ruang Masjid

Secara tata ruang, Masjid Negara IKN terbagi dalam tiga zona utama: bangunan utama, bangunan penunjang, dan bangunan komersial. Bangunan utama difungsikan sebagai area salat dan penyelenggaraan acara keagamaan utama. Sementara itu, bangunan penunjang dirancang sebagai ruang serbaguna yang dapat menjadi area tenant, booth terbuka, dan pusat aktivitas Ramadan.

Di antara bangunan utama dan Plaza Kerukunan, terdapat bangunan komersial yang menjadi ruang kegiatan seperti area makan, tenant masjid, hingga fasilitas untuk pelaksanaan kurban pada Iduladha. Kompleks masjid juga dilengkapi berbagai prasarana umum untuk mendukung kenyamanan jamaah dalam skala besar, meliputi:

  • Area parkir bus dan mobil.
  • Area pengisian daya kendaraan listrik (electrical charging vehicle).
  • Area wudhu yang tersebar di lantai Ground Floor, lantai 2, dan lantai 3 bangunan utama.
  • Fasilitas wudhu dan toilet di masing-masing bangunan pendukung untuk mengakomodasi lonjakan jamaah.

Desain Berkelanjutan dan Kearifan Lokal

Masjid Negara IKN dirancang selaras dengan visi Ibu Kota Nusantara sebagai forest city yang berkelanjutan, melalui penerapan prinsip Bangunan Hijau (green building). Sistem ventilasi alami dan pencahayaan daylighting dioptimalkan melalui desain pintu dan fasad yang terbuka, dengan pengaturan aliran udara panas ke puncak kubah. Hal ini menjaga ruang utama tetap sejuk tanpa ketergantungan penuh pada sistem pendingin udara.

Pemanfaatan energi terbarukan diwujudkan melalui pemasangan panel surya di area kanopi jalur pejalan kaki dan kawasan parkir (SPKLU) untuk menyuplai sebagian kebutuhan listrik masjid. Dari aspek pengelolaan air dan lanskap, masjid dikelilingi embung atau kolam penampung yang berfungsi sebagai elemen estetika sekaligus pengendali mikroklimat dan retensi air hujan. Sistem daur ulang air dirancang agar air dapat digunakan kembali untuk penyiraman lanskap dan kebutuhan non-konsumsi lainnya, sehingga mengurangi beban sistem air bersih.

Upaya menekan jejak karbon juga dilakukan melalui pemanfaatan material yang minim limbah dan sebanyak mungkin bersumber dari pemasok lokal, didukung pemodelan konstruksi presisi sehingga sisa bahan bangunan dapat diminimalkan. Dalam hal pemberdayaan lokal, pembangunan Masjid Negara IKN melibatkan sekitar 30 persen tenaga kerja lokal dari Kalimantan serta subkontraktor lokal untuk berbagai pekerjaan fabrikasi, seperti railing mezanin, sebagian totem wudhu, dan railing kaca.

Filosofi Arsitektur dan Inklusivitas

Secara arsitektural, Masjid Negara IKN mengusung konsep desain sorban yang ikonik dan sarat makna filosofis. Bentuk kubah yang menyerupai lekukan sorban atau lilitan kain merepresentasikan identitas budaya Nusantara yang lekat dengan kain tradisional, sekaligus menggambarkan kelembutan dan fleksibilitas bangsa. Rangkaian lengkung dan spiral yang memusat memvisualisasikan perjalanan manusia dalam mencari makna, mendekat kepada Sang Pencipta, dan menyatu dengan alam.

Bangunan masjid yang berdiri di atas embung mencerminkan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan, dengan air sebagai elemen yang menyatukan fungsi estetika, kenyamanan termal, dan keberlanjutan lingkungan. Lokasinya yang ditempatkan dalam satu kawasan terpadu dengan rumah ibadah agama lain menjadi simbol nyata implementasi Bhinneka Tunggal Ika dan penguatan toleransi antarumat beragama. Sirkulasi udara dan pencahayaan alami mencerminkan adaptasi terhadap iklim tropis dan kearifan lokal arsitektur Nusantara.

Pusat Kegiatan Sosial dan Wisata Religi

Fungsi Masjid Negara IKN tidak berhenti pada ruang ibadah, tetapi meluas sebagai pusat kegiatan sosial, edukatif, dan wisata religi. Masjid ini akan menjadi tempat penyelenggaraan pengajian, seminar, diskusi, dan aktivitas keilmuan dengan dukungan ruang pertemuan serta fasilitas literasi keislaman, termasuk perpustakaan atau ruang literasi berbasis digital. Dengan arsitekturnya yang ikonik dan posisinya di pusat pemerintahan baru, masjid ini diproyeksikan menjadi salah satu destinasi utama wisata religi yang merepresentasikan Islam Indonesia yang moderat dan inklusif.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, turut menyampaikan dukungannya terhadap pembangunan IKN. Ia menilai kehadiran Masjid Negara dan fasilitas keagamaan lintas umat lain menjadi representasi penting dari Nusantara sebagai ibu kota yang inklusif dan merefleksikan keragaman Indonesia. Hal ini sejalan dengan rencana Kementerian Agama yang akan segera berkantor di Nusantara seiring percepatan relokasi lembaga pemerintah pusat ke IKN.

“Nah, dengan demikian kita akan lebih mempercepat aktivitas kantor kita di sini, karena ini adalah kebanggaan kita, makin cepat dilihat oleh dunia makin akan lebih bagus, insya Allah sesuai dengan harapan Bapak Presiden bahwa IKN ini nanti akan menjadi ikonik bangsa Indonesia yang sangat membanggakan. Saya kira kita banyak masyarakat yang belum paham apa dan seperti apa IKN sekarang ini, saya sendiri juga sangat yakin setelah melihat, menyaksikan dari dekat apa-apa yang telah disiapkan,” ujar Nasaruddin.

Dari perspektif perusahaan, Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menyampaikan bahwa partisipasi Hutama Karya dalam pembangunan Masjid Negara IKN merupakan tonggak strategis yang memperkuat portofolio ikon nasional perusahaan. “Hutama Karya berkomitmen menghadirkan infrastruktur keagamaan yang tidak hanya ikonik secara arsitektur, tetapi juga fungsional, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga keberadaan Masjid Negara IKN benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi umat dan menjadi kebanggaan baru bagi Indonesia,” pungkas Mardiansyah.