Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Jumat, 22 Mei 2026, menyatakan bahwa sistem layanan kesehatan di Jalur Gaza masih berada di bawah tekanan yang sangat besar. Situasi ini mendesak dibukanya akses masuk untuk pasokan esensial guna mencegah keruntuhan total layanan medis di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan harian OCHA yang dirilis pada Kamis (21/5), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencatat setidaknya 22 serangan terhadap fasilitas kesehatan dan layanan perawatan medis di Gaza. Serangan-serangan ini tidak hanya mengakibatkan korban jiwa, tetapi juga berdampak serius pada transportasi medis dan operasional fasilitas kesehatan.
Selain itu, mitra lembaga bantuan kemanusiaan menghadapi kesulitan signifikan dalam mengakses air bersih. OCHA menambahkan bahwa tiga dari empat keluarga di Gaza kini sangat bergantung pada pasokan air yang dikirim menggunakan truk. Sejumlah organisasi bantuan saat ini mendistribusikan sekitar 24.000 meter kubik air setiap hari melalui sekitar 2.000 titik distribusi.
Namun, OCHA memperingatkan bahwa operasi pengiriman air ini sangat bergantung pada generator dan mesin. Risiko kerusakan akibat kurangnya material untuk perawatan dan perbaikan menjadi ancaman serius yang dapat mengganggu distribusi air vital.
Secara terpisah, WHO mengungkapkan bahwa selama empat bulan pertama tahun ini, lebih dari sepertiga permohonan izin berobat pasien untuk perawatan di Yerusalem Timur dan Israel ditolak atau ditunda. Angka persetujuan izin ini jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelum perang dimulai pada Oktober 2023, di mana lebih dari dua pertiga permohonan berobat saat itu dikabulkan.
