Pasokan asam sulfat global mengalami gangguan serius dan memicu kenaikan harga yang tajam. Situasi di Iran, khususnya blokade Selat Hormuz, serta kebijakan pembatasan ekspor dari China menjadi pemicu utama krisis ini, sebagaimana dilaporkan oleh Wall Street Journal.
Asam sulfat merupakan komoditas vital yang digunakan dalam produksi pupuk, serta untuk melarutkan tembaga dan logam lainnya. Sebagian besar pasokan asam ini berasal dari kilang minyak di kawasan Teluk Persia.
Krisis Pasokan Global dan Dampaknya
Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor krusial dalam gangguan pasokan ini. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran. Tindakan ini hampir sepenuhnya menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur maritim yang sangat penting bagi pasokan minyak dan gas dunia, sehingga memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.
Sebagai produk sampingan dari pengolahan minyak, harga asam sulfat juga ikut meningkat di Timur Tengah akibat konflik tersebut. Gangguan ini semakin diperparah oleh langkah China, produsen asam sulfat terbesar di dunia.
Pada April lalu, Bloomberg melaporkan bahwa China sedang mempertimbangkan larangan ekspor asam sulfat mulai Mei 2026 di tengah gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah. Larangan ini kini telah diterapkan, memperburuk kekurangan global.
Peringatan dari Para Pakar
Pakar pasar Freda Gordon, kepala Acuity Commodities, menyoroti dampak kebijakan China. Ia mengatakan, “ancaman terhadap pasar pupuk mendorong China, produsen asam terbesar di dunia, untuk membatasi ekspor bulan ini.” Menurut Gordon, langkah tersebut telah menyebabkan harga naik dan semakin memperburuk kekurangan asam sulfat.
Senada, Sarah Marlow, pakar pasar pupuk dari Argus, menambahkan bahwa pembatasan ekspor asam sulfat dari China ini kemungkinan akan berdampak paling parah pada Chile dan Indonesia.
