Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadapi tekanan yang semakin kuat untuk mundur dari jabatannya. Desakan ini muncul setelah Partai Buruh mengalami kekalahan besar dalam pemilu lokal yang baru-baru ini diselenggarakan.

Menurut laporan The Telegraph, enam menteri kabinet Starmer telah mendesak perdana menteri untuk mengundurkan diri. Rapat kabinet Inggris sendiri telah digelar di kediaman resmi PM Starmer di Downing Street, Westminster, pada Selasa (12/5), menyusul performa buruk Partai Buruh dalam pemilu tersebut. Selain para menteri, puluhan anggota parlemen Inggris dari Partai Buruh juga secara terbuka meminta Starmer untuk melepaskan jabatannya.

Para menteri di kabinet Starmer yang menyerukan pengunduran diri tersebut meliputi Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood, Menteri Pertahanan John Healey, Menteri Energi Ed Miliband, Menteri Kebudayaan Lisa Nandy, Menteri Luar Negeri Yvette Cooper, dan Menteri Kesehatan Wes Streeting.

Meskipun menghadapi gelombang desakan, Starmer tetap menegaskan tekadnya untuk terus menjabat sebagai perdana menteri Inggris. “Seperti yang saya katakan, saya bertanggung jawab atas hasil pemilu. Partai Buruh mempunyai mekanisme untuk menuntut pergantian pemimpinnya dan itu belum dijalankan. Namun, negara mengharapkan kita (Kabinet Starmer) untuk terus memimpin. Itulah yang saya lakukan dan yang perlu kita lakukan sebagai sebuah kabinet,” kata Starmer seperti dikutip SkyNews.

Sebelumnya, Menteri Perumahan Rakyat Inggris Miatta Fahnbulleh telah menyatakan mundur dari pemerintahan sembari secara eksplisit menuntut pengunduran diri PM Starmer. Sejumlah anggota kabinet lainnya juga dilaporkan telah mengundurkan diri dari jabatan mereka pada Senin sore (11/5).

Jumlah anggota parlemen Inggris dari Partai Buruh yang meminta pengunduran diri Starmer kini telah melampaui 70 orang, meningkat drastis dari jumlah awal yang hanya sekitar 30 orang.

Hasil pemilu daerah yang digelar pada 7 Mei lalu di 136 wilayah di Inggris memang menunjukkan kekalahan telak bagi Partai Buruh. Partai tersebut kehilangan hampir 1.200 kursi dari total 2.200 kursi yang sebelumnya mereka kuasai di dewan-dewan tingkat daerah. Sementara itu, pemenang terbesar dalam pemilu lokal ini adalah Partai Reformasi Britania Raya yang berhaluan kanan, berhasil menguasai 1.400 kursi di dewan daerah.