Hampir sebulan pascabanjir besar yang melanda Sumatra, 11 desa di Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, masih terisolasi total. Warga menghadapi krisis air bersih yang parah, sementara puluhan ton hasil panen cabai mereka terancam membusuk tanpa bisa didistribusikan.

Bencana dahsyat yang meluluhlantakkan Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 26-27 November lalu itu, kini memasuki hari ke-27. Banyak korban terdampak masih berjuang hidup di tengah keterpurukan tanpa akses memadai dari pemerintah pusat maupun daerah.

Krisis Air Bersih dan Akses Terputus

Berdasarkan penelusuran di lapangan pada Senin (22/12), sebanyak 11 dari 16 desa di Kecamatan Rusip Antara masih terkurung. Akses jalur darat bagi kendaraan roda dua dan empat lumpuh total karena badan jalan dan jembatan putus dihantam banjir.

Jaringan pipa air bersih desa maupun milik pribadi yang bersumber dari pegunungan porak-poranda dihantam longsor dan diterjang air bah. Sumur warga juga hancur atau tertimbun lumpur dan sedimen sampah banjir.

Camat Rusip Antara, Arifin, mengungkapkan kesulitan warga mendapatkan air bersih. “Mengharap sumber air alur-alur di lembah gunung juga masih berlumpur. Air sungai juga keruh sangat pekat bau lumpur. Kadang warga harus menadah air hujan atau terpaksa juga mengambil dari alur di celah bukit,” kata Arifin pada Senin (22/12).

Sebelas desa yang terkurung dalam Kemukiman Cinta Harapan itu meliputi Desa Rusip, Pantan Tengah, Karawang, Atu Singkih, Pantan Bener, Pilir Jaya, Pilir Wih Kiri, Tirmi Ara, Mekar Ayu, Aril Pertik, dan Desa Pilar.

Dampak Ekonomi dan Upaya Bantuan

Anggota DPR RI asal Aceh, M Nasir Djamil, bersama lintas komunitas mobil Land Rover dan Motor Trail Aceh, menembus longsor melalui Jalur Geumpang, Kabupaten Pidie-Pameue, Aceh Tengah, untuk melihat langsung kondisi. Setelah menempuh perjalanan sekitar 300 km dari Banda Aceh, ia tiba di Kecamatan Rusip Antara.

Nasir Djamil mendapati kondisi yang memprihatinkan. “Mereka terkurung. Sedikitnya 52 titik badan jalan ambles diterjang arus banjir, tertimbun longsor lereng gunung, jembatan putus oleh derasnya arus sungai. Sekitar 100 tiang listrik tumbang, lampu PLN hingga sekarang padam total, jaringan internet lumpuh sama sekali. Untuk membuktikan sesungguhnya, malam saya tidur di posko tenda darurat relawan lintas komunitas. Ternyata sungguh-sungguh pahit penderitaan mereka,” tutur Nasir Djamil dengan suara tinggi.

Memasuki pekan keempat pascabanjir, para petani di Rusip Antara menghadapi kesulitan besar. Hasil panen cabai rawit, cabai nano, dan cabai merah dari kebun sulit dijual. Tengkulak atau agen luar yang biasanya membeli hasil produksi cabai setempat, yang dipasok untuk kebutuhan pasar lokal Aceh dan Medan, kini tidak dapat masuk ke lokasi.

Melihat kondisi petani yang sedang musim panen raya namun pupus harapannya, Nasir Djamil spontan memborong semua cabai yang baru dipanen. “Saya borong semuanya cabai milik warga, nanti kami bawa ke Banda Aceh mungkin ada manfaatnya. Karena petani di sini tidak tahu lagi harus bawa ke mana hasil panennya,” ucap Nasir Djamil sambil menyemangati para petani.

Tokoh muda masyarakat Kecamatan Rusip Antara, Zainal Abidin, menambahkan bahwa ratusan hektare lahan cabai yang ditanam tumpang sari bersama kopi gayo sedang musim panen raya. Namun, sebagian besar dibiarkan membusuk di batang atau berkarung-karung karena tidak bisa didistribusikan.

“Ada juga yang berusaha menembus longsor menuju pasar Geumpang, Kabupaten Pidie, ke arah Beutong, Kabupaten Nagan Raya atau Takengon, Aceh Tengah. Itu separuh jalan harus memanggul jalan kali sampai 10 km. Ternyata sampai di sana sebagian sudah patah-patah. Harganya pun paling Rp10.000/kg. Itupun warga menempuh jarak paling jauh dan sulit. Harapannya saat pulang bisa membawa bahan makanan untuk keluarga,” tutur Zainal yang akrab dipanggil Jernang.

Menurut Camat Arifin, produksi cabai di Kecamatan Rusip Antara dan Kecamatan Silih Nara pada musim panen kali ini mencapai sekitar 5 hingga 10 ton per hari. Akibat bencana banjir, petani merugi karena tidak ada agen yang masuk.

Dalam kondisi yang sangat sulit ini, Nasir Djamil berharap pemerintah segera membangun kembali atau memperbaiki akses jalan ke Rusip Antara dan Kecamatan Silih Nara. “Insya Allah dengan terbangunnya kembali ekses jalur darat, harapan baru memulihkan ekonomi warga di sana segera membaik,” tambahnya.