Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia Nasaruddin Umar menegaskan peran krusial umat beragama sebagai penjaga moralitas publik, perekat sosial, dan persatuan bangsa Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Nasaruddin saat menghadiri penutupan Ibadah Paskah Nasional ke-V di Desa Loru, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Senin, 27 April 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin menyoroti pentingnya kolaborasi dan kebersamaan dalam membangun negeri. “Jadi, dalam konteks kehidupan berbangsa kerja sama adalah fondasi utama, tidak ada kemajuan tanpa kolaborasi dan tidak ada kesejahteraan tanpa kebersamaan. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen bangsa, pemerintah, legislatif, tokoh agama, dan masyarakat untuk terus memperkuat sinergi dalam membangun negeri ini,” ujar Nasaruddin kepada awak media di Sigi.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan di masa depan akan semakin kompleks, menuntut adaptasi, inovasi, dan keteguhan pada nilai-nilai luhur bangsa. Menurutnya, umat beragama memiliki tanggung jawab besar tidak hanya dalam lingkup internal, tetapi juga dalam menjaga harmoni sosial. “Umat beragama memiliki tanggung jawab yang besar bukan hanya lingkup internal, tetapi juga dalam menjaga harmoni sosial,” tegasnya.
Nasaruddin menjelaskan bahwa toleransi bukan sekadar sikap pasif dalam menerima perbedaan, melainkan komitmen aktif untuk menghormati, melindungi, dan bekerja sama dalam keberagaman. “Saya sering menyampaikan bahwa toleransi bukan menyamakan sesuatu yang berbeda, bukan pula membedakan yang sama. Biarkan yang berbeda itu berbeda dan yang sama kita biarkan sama, tetapi kita hidup dalam perbedaan penuh keindahan seperti pelaksanaan perayaan Ibadah Paskah Nasional V tahun 2026,” sebutnya.
Baginya, toleransi adalah kekuatan, dan kerukunan merupakan modal sosial serta persatuan yang menjadi kunci masa depan bangsa Indonesia. “Saya ingin menegaskan bahwa Indonesia adalah rumah besar bagi kita semua, rumah yang dibangun di atas fondasi pancasila dan undang-undang dasar 1945 yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan sosial,” kata Nasaruddin.
Ia menekankan bahwa di dalam “rumah besar” tersebut, tidak boleh ada ruang bagi intoleransi, diskriminasi, dan perpecahan. “Kita harus memastikan bahwa setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang agama, suku atau golongan merasa aman, dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, sehingga saya mengajak seluruh umat Kristiani, khususnya yang mengikuti Paskah Nasional V untuk terus menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, jadilah pembawa agama dan pelopor persatuan,” pungkasnya.
