Menteri Energi Australia Chris Bowen mengonfirmasi bahwa enam kapal tanker yang seharusnya berlayar menuju Australia telah dibatalkan atau tertunda. Pembatalan ini terjadi akibat memanasnya konflik di kawasan Teluk Persia, yang berpotensi memengaruhi pasokan energi di negara tersebut.
Bowen menjelaskan kepada saluran media ABC pada Minggu, 22 Maret 2026, bahwa pembatalan tersebut melibatkan enam dari total 81 kapal tanker yang dijadwalkan. “Bukan berarti lingkungan internasional saat ini tidak penuh tantangan. Tentu saja pasokan minyak ke kilang-kilang Asia melambat, dan hal itu berdampak pada kita,” ujar Bowen.
Keenam kapal tanker yang terdampak dijadwalkan tiba di Australia antara pertengahan April hingga pertengahan Mei 2026. Meski demikian, Bowen memastikan bahwa pasokan minyak untuk bulan depan masih akan berjalan normal, dengan stok cadangan minyak yang stabil pada angka sebelum konflik.
Namun, situasi diperkirakan dapat memburuk setelah bulan April, mengingat pelayaran minyak selanjutnya semakin sulit diprediksi. Australia saat ini memiliki stok cadangan minyak yang cukup untuk 38 hari bensin, serta masing-masing 30 hari untuk diesel dan bahan bakar pesawat.
Krisis di Teluk Persia ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah.
Awalnya, AS dan Israel mengklaim serangan mereka diperlukan untuk menangkal ancaman dari program nuklir Iran. Namun, kemudian terungkap bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk mencapai pergantian kekuasaan di Iran.
Sumber informasi ini berasal dari Sputnik.
